Penyakit Ginjal Sudah Ditemukan pada Usia 15 Tahun, Cek 7 Tanda yang Tak Boleh Diabaikan!

1 week ago 9

Selasa, 1 September 2026 - 19:19 WIB

VIVA – Penyakit ginjal kronis selama ini kerap dikaitkan dengan kelompok usia lanjut. Namun, data menunjukkan gangguan tersebut juga mulai ditemukan pada kelompok usia produktif, bahkan sejak usia muda.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, penyakit ginjal kronis tercatat pada kelompok usia 15–24 tahun sebesar 0,02 persen. Angkanya meningkat menjadi 0,07 persen pada usia 25–34 tahun dan 0,11 persen pada kelompok 35–44 tahun.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara itu, data BPJS Kesehatan yang dikutip Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 134.057 pasien gagal ginjal kronis menjalani hemodialisis sepanjang 2024.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal Hipertensi di Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Mutalib Abdullah, Sp.PD-KGH, FINASIM, mengatakan salah satu tantangan dalam menangani penyakit ginjal adalah gejalanya yang kerap tidak terlihat pada tahap awal.

“Banyak pasien merasa baik-baik saja karena penyakit ginjal pada tahap awal bisa tidak memberikan gejala yang jelas. Karena itu, orang dengan faktor risiko sebaiknya tidak menunggu keluhan muncul untuk memeriksakan ginjal,” jelas dr. Mutalib Abdullah dalam keterangannya, dikutip Selasa 1 September 2026. 

Diabetes dan Hipertensi Jadi Faktor Risiko Utama

Kerusakan ginjal dapat berlangsung secara perlahan. Dua kondisi yang menjadi faktor penting adalah diabetes dan hipertensi.

Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak sistem penyaringan ginjal. Sementara itu, tekanan darah tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah yang berperan dalam fungsi ginjal.

Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula juga perlu diperhatikan, meski tidak serta-merta menyebabkan gagal ginjal.

“Minuman manis bukan berarti langsung menyebabkan gagal ginjal. Yang perlu diwaspadai adalah konsumsi gula berlebihan yang dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes. Bila diabetes tidak terkontrol dalam jangka panjang, ginjal dapat ikut mengalami kerusakan,” ujar dr. Mutalib.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain diabetes dan hipertensi, sejumlah kebiasaan serta kondisi kesehatan lain juga dapat meningkatkan risiko. Di antaranya pola makan tinggi garam, kurang aktivitas fisik, merokok, berat badan yang tidak terkontrol, serta penggunaan obat pereda nyeri, jamu, atau suplemen tanpa pengawasan.

Gangguan ginjal juga dapat dipicu oleh batu atau sumbatan saluran kemih, penyakit autoimun, infeksi, kelainan bawaan hingga faktor genetik.

Halaman Selanjutnya

Jangan Abaikan Perubahan pada Urine

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |