Jakarta, VIVA – Peraih Nobel Perdamaian 2014 asal India, Kailash Satyarthi, membedah keterkaitan mendasar antara demokrasi, hak asasi manusia (HAM), dan kesejahteraan sosial.
Ia menegaskan bahwa keberadaan undang-undang serta pemilihan umum yang rutin tidak secara otomatis menjamin pemenuhan hak-hak rakyat apabila masyarakat kelas bawah tidak memiliki daya tawar terhadap negaranya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Hak tidak boleh berhenti sebagai tulisan di atas kertas. Ketika hak dirampas, demokrasi mengerut. Ketika akuntabilitas hilang, demokrasi tenggelam," kata Satyarthi dalam sebuah acara diskusi, Senin, 31 Agustus 2026.
Ia menyoroti bagaimana demokrasi sering kali kehilangan makna substansialnya karena gagal melindungi masyarakat rentan, seperti pekerja anak, penyandang disabilitas, dan warga miskin kronis yang kerap absen dari panggung politik elektoral. Menurutnya, kegagalan pada satu pilar kesejahteraan atau HAM akan secara otomatis membatalkan capaian di bidang demokrasi.
"Satu anak saja yang menjadi korban perbudakan atau pekerja anak, itu sudah terlalu banyak. Demokrasi, HAM, dan program kesejahteraan sosial tidak boleh berjalan sendiri-sendiri," katanya.
Sementara, praktisi hukum dan HAM senior Todung Mulya Lubis mengungkapkan keprihatinannya terkait indikasi kemunduran demokrasi yang dialami Indonesia maupun India.
"Di Indonesia, kita melihat supremasi sipil perlahan diambil alih oleh militer. Kampus tampak berada di bawah tekanan, dengan pimpinan universitas yang dikriminalisasi. Masyarakat sipil dituduh sebagai agen asing, dan media independen tampak menyerah," ujar Todung.
Menanggapi berbagai persoalan struktural tersebut, Satyarthi menawarkan solusi berupa penguatan prinsip welas asih yang berkeadilan sebagai kekuatan transformatif untuk mendisrupsi sistem eksploitasi, bukan sekadar menunjukkan empati pasif.
"Dunia sudah mengglobalkan pasar, data, ekstremisme, dan krisis iklim. Inilah saatnya mengglobalkan compassion," tutur Satyarthi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Rektor/Perwakilan Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said, menutup diskusi dengan menyambut baik gagasan tersebut. Pihaknya berencana menindaklanjuti ajakan Satyarthi melalui kerja sama riset global guna mengembangkan konsep kepemimpinan berlandaskan welas asih (compassionate leadership) di lingkungan akademis.
"Kalau kita bisa menumbuhkan compassion di dalam kampus, saya kira kita bisa memainkan peran sebagai jembatan kolaborasi antarsektor. Karena pada kenyataannya bekerja bersama itu sebuah keharusan," pungkas Sudirman.
Halaman Selanjutnya
Sebagai informasi, Kailash Satyarthi menerima Nobel Perdamaian 2014 bersama Malala Yousafzai atas kerja pembebasan anak dari perbudakan dan perdagangan orang.

1 week ago
8













