Jakarta, VIVA – Riset kini menjadi salah satu elemen penting dalam membentuk kompetensi mahasiswa kedokteran, tidak hanya sebagai syarat akademik, tetapi juga sebagai bekal dalam memahami persoalan kesehatan secara lebih luas. Pendekatan berbasis penelitian dinilai mampu melatih pola pikir kritis sekaligus memperkuat pengambilan keputusan dalam praktik medis.
Hal ini tercermin dari pengalaman dr. Theofanus Mario Chandra, lulusan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Unika Atma Jaya, yang mulai mendalami riset sejak masa skripsi. Awalnya, proses tersebut tidak berjalan mulus, namun justru menjadi momentum untuk memahami metode penelitian secara lebih serius.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dalam praktiknya, riset membantu mahasiswa mengaitkan teori dengan kondisi nyata di lapangan. Topik-topik yang diangkat pun beragam, mulai dari prevalensi hipertensi pada remaja hingga hubungan penyakit kronis dengan kondisi tertentu seperti COVID-19. Pendekatan ini membuka ruang bagi mahasiswa untuk melihat masalah kesehatan dari perspektif yang lebih komprehensif.
Keterlibatan dalam penelitian juga mendorong mahasiswa untuk aktif di forum ilmiah. Presentasi dalam seminar nasional hingga konferensi internasional menjadi wadah untuk menguji gagasan sekaligus memperluas wawasan. Dengan demikian, riset tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi berkembang menjadi bagian dari ekosistem akademik yang lebih luas.
Selain itu, pengalaman riset sering kali beririsan dengan praktik langsung di lapangan, terutama saat menjalani pendidikan profesi. Interaksi dengan pasien dan masyarakat memperkuat pemahaman bahwa data dan penelitian memiliki peran penting dalam menentukan pendekatan pelayanan kesehatan yang tepat.
“Mumpung masih mahasiswa, belajar dari kesalahan itu penting sebelum benar-benar jadi dokter,” ujarnya, dikutip Kamis 30 April 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
![]()
Dengan semakin kompleksnya tantangan di sektor kesehatan, kemampuan memahami dan melakukan riset menjadi nilai tambah bagi calon dokter. Tidak hanya untuk pengembangan ilmu, tetapi juga sebagai landasan dalam meningkatkan kualitas layanan serta menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.
Riset Ungkap AI Bisa Picu 'Resesi' Baru di Dunia Kerja, Pekerja Kantoran Terancam!
Studi Anthropic menunjukkan AI berpotensi menggantikan banyak pekerjaan kantoran. Bahkan muncul risiko “resesi besar” bagi pekerja profesional. Baca di sini
VIVA.co.id
13 Maret 2026

1 day ago
2



























