Pil Ekstasi Boleh Dipakai untuk Atasi Stres Berat

1 week ago 2

Jumat, 4 September 2026 - 13:04 WIB

VIVA - Selandia Baru resmi menjadi negara kedua di dunia setelah Australia yang mengizinkan penggunaan MDMA (ekstasi, dalam bentuk pil, dan molly, dalam bentuk bubuk atau kristal) kelas farmasi untuk mengobati penderita gangguan stres pascatrauma (post-traumatic stress disorder/PTSD).

Lampu hijau dari badan pengatur farmasi setempat, Medsafe, memberi wewenang kepada dua psikiater untuk mulai meresepkan obat psikedelik ini.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Wakil Perdana Menteri Selandia Baru, David Seymour, menegaskan pentingnya terobosan ini mengingat PTSD merupakan gangguan mental yang sangat merusak hidup dan tergolong sulit disembuhkan.

"Terapi dengan bantuan zat psikedelik seperti MDMA bisa menjadi jawaban efektif sekaligus bentuk komitmen negara dalam membuka akses perawatan medis yang inovatif," ungkapnya, seperti dikutip dari Gulfnews, Jumat, 4 September 2026.

MDMA (3,4-methylenedioxymethamphetamine) merupakan zat sintetis dengan efek stimulan dan psikedelik. Di jalanan, senyawa ini lebih populer dengan sebutan ekstasi atau molly.

Dalam dunia medis, efeknya yang mampu memicu kehangatan emosional dan mengubah persepsi dinilai dapat membantu pasien memproses trauma mendalam secara lebih aman. Fakta penting terapi MDMA di Selandia Baru:

- Pengawasan Ketat: Pasien tidak bisa membawa pulang obat ini. Terapi wajib dilakukan di dalam lingkungan klinis terkontrol di bawah pengawasan psikiater berwenang.

- Kombinasi Psikoterapi: Penggunaan MDMA bukan sekadar minum obat, melainkan bagian dari paket rencana perawatan medis komprehensif yang dipadukan dengan sesi psikoterapi.

- Syarat Batas Usia: Terapi ini hanya diperuntukkan bagi pasien yang sudah berusia 18 tahun ke atas.

Keputusan Selandia Baru ini terbilang cukup berani jika dibandingkan dengan regulasi di Amerika Serikat (AS). Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) sempat menolak legalisasi MDMA untuk pengobatan medis.

Hal tersebut karena menganggap bukti keamanan dan efektivitasnya masih kurang, meski uji klinis hingga kini masih terus berjalan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Padahal, opsi obat PTSD di AS saat ini sangat terbatas pada antidepresan yang butuh waktu hingga tiga bulan untuk bekerja, itu pun dengan tingkat keberhasilan yang bervariasi.

Di sisi lain, potensi besar MDMA mulai terlihat dari berbagai riset global. Sebuah studi di Israel tahun lalu menemukan bahwa MDMA yang dikonsumsi oleh para pengunjung festival musik Nova, ketika ratusan orang tewas oleh Hamas, telah membantu mengurangi dampak trauma berat yang mereka alami.

Ilustrasi sabu-sabu.

Home Industri Sabu dan Ekstasi Digerebek di Lampung, Polisi Tangkap 10 Orang di 5 TKP

Direktorat Reserse Narkoba Polda Lampung membongkar praktik home industry pembuatan narkotika jenis sabu dan pil ekstasi di kawasan Komplek Rajawali Resident Candi Mas.

img_title

VIVA.co.id

30 Agustus 2026

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |