Jakarta, VIVA – PT Waskita Karya (Persero) Tbk bersama PT Jakarta Propertindo (Perseroda), telah memulai rangkaian Testing and Commissioning (T&C) sistem perkeretaapian LRT Jakarta Fase 1B Velodrome-Manggarai beberapa waktu lalu.
Direktur Utama Jakarta Propertindo (Jakpro), Iwan Takwin mengatakan, salah satu rangkaian ujinya yakni dengan melaksanakan tes jalur lintasan sepanjang 3,6 kilometer (km), yang menghubungkan Stasiun Velodrome dengan Stasiun Pramuka.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dia menjelaskan, tahapan T&C dilakukan secara detail, agar seluruh sistem siap digunakan. Proses tersebut mencakup pengujian sistematis dan terstruktur terhadap semua komponen dan subsistem sebelum operasional komersial dijalankan, mulai dari jalur, persinyalan, kelistrikan, komunikasi, hingga integrasi operasional.
"Setiap meter pada jalur layang LRT Jakarta Fase 1B adalah tanggung jawab kami kepada masyarakat DKI Jakarta yang akan mengandalkan LRT setiap harinya. Maka itu, tahapan T&C ini harus dipersiapkan sangat matang," kata Iwan dalam keterangannya, Rabu, 3 Juni 2026.
Perlintasan jalur layang LRT Jakarta Fase 1B.
Direktur Operasi II Waskita Karya, Paulus Budi Kartiko mengatakan, keterlibatan Waskita Karya pada pembangunan LRT Fase 1B, bukan hanya terkait pekerjaan konstruksi saja, namun juga kesempatan untuk menunjukkan hasil atau showcase capability.
"Proyek dengan visibilitas tinggi (high visibility) ini menjadikan kualitas kerja langsung berdampak terhadap reputasi jangka panjang," ujar Paulus.
Dia menjelaskan, lingkup kerja Waskita pada LRT Jakarta Fase 1B ini mencakup integrasi sipil, rel, sistem, dan operasi. Waskita juga terus mempercepat pengerjaannya supaya bisa segera dimanfaatkan publik, sehingga realisasi pembangunan proyek senilai Rp 4,1 triliun itu sudah menembus hingga 93,07 persen.
"Dalam proses pengerjaan, tantangan utama (urban constraint) yang kami hadapi sebagai kontraktor di antaranya lalu lintas Jakarta yang padat dan ruang kerja terbatas," kata Paulus.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Maka solusinya, kami optimalkan waktu kerja pada malam hari, yang menuntut fokus dan inovasi pada sistem safety dan sistem kerja. Kami melihat ini sebagai constraint yang harus dikelola, bukan dihindari," ujarnya.
Dalam pelaksanaan tes jalur lintasan, lanjut Paulus, salah satu area yang dilintasi yaitu perlintasan di atas Jalur Aktif Tol Wiyoto-Wiyono, pada kilometer 1+700 sampai 2+100. Maka demi menjaga kondisi lalu lintas di jalan tol itu agar tidak terganggu selama masa konstruksi, Waskita berinovasi menggunakan metode balance cantilever dengan span sepanjang 120 meter (m).
Halaman Selanjutnya
"Keselamatan konstruksi, baik dalam pengamanan konstruksi balance cantilever maupun pengguna jalan, tetap harus diutamakan," ujarnya.

9 hours ago
3















