Pulung Agustanto: Anak Muda Menganggur Jadi Korban Kebijakan yang Salah

1 week ago 20

Jumat, 4 September 2026 - 21:39 WIB

Jakarta, VIVA – Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) usia muda mencapai 17,37 persen, jauh di atas rata-rata TPT nasional 4,65 persen. Angka ini menunjukkan persoalan serius di pasar kerja Indonesia. Semakin banyak anak muda yang masuk ke pasar kerja, tetapi tidak memiliki kesempatan yang cukup untuk mendapatkan pekerjaan.

Menurut anggota Komisi IX DPR RI, Pulung Agustanto, kondisi tersebut tidak bisa semata-mata dilihat sebagai persoalan kemampuan atau kemauan anak muda untuk bekerja. Ada persoalan struktural dalam kebijakan ketenagakerjaan, pendidikan, dan pembangunan industri yang harus dievaluasi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Pasokan angkatan kerja kita bertambah besar setiap tahun. Tetapi lapangan kerjanya gak ada, " ujar Pulung dalam keterangan tertulis, Jumat, 4 September 2026.

Ironisnya, hal tersebut terjadi bersamaan dengan keluhan sejumlah pelaku industri yang justru mengaku kesulitan mendapatkan tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Bagi Pulung, situasi ini menunjukkan adanya paradoks pasar kerja Indonesia. Di satu sisi, jutaan anak muda membutuhkan pekerjaan. Di sisi lain, dunia usaha mengeluhkan kekurangan tenaga terampil.

"Ini alarm serius. Kita punya banyak anak muda yang membutuhkan pekerjaan, sementara industri mengatakan membutuhkan tenaga terampil. Berarti ada persoalan besar dalam mempertemukan pendidikan, keterampilan, dan kebutuhan industri," katanya.

Salah satu persoalan klasik yang hingga kini belum berhasil diselesaikan adalah ketidaksesuaian antara sistem pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja.

Ia menilai kebijakan pendidikan dan desain pembangunan industri seolah berjalan di jalur masing-masing. Akibatnya, lulusan pendidikan nasional tidak selalu memiliki kompetensi yang dibutuhkan ketika memasuki pasar kerja.

"Kebijakan pendidikan dan desain kebijakan industri seperti dua dunia yang terpisah. Yang menjadi korban adalah anak-anak muda kita karena ego sektoral yang tidak pernah selesai," tegasnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pulung mengingatkan agar persoalan pengangguran anak muda tidak selalu dibebankan kepada individu. Dalam banyak diskusi mengenai pasar kerja, anak muda kerap dituding tidak mampu mengikuti perkembangan zaman, kurang keterampilan, atau tidak mau beradaptasi dengan kebutuhan industri.

"Anak-anak muda kita dididik dalam sebuah sistem pendidikan nasional. Sistem itu dirancang oleh pemerintah. Kalau setelah mereka lulus kemudian kesulitan mendapatkan pekerjaan, jangan buru-buru menyalahkan mereka," ujarnya.

Halaman Selanjutnya

Apalagi, kata Pulung, jika terdapat kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia industri, maka yang harus dipertanyakan adalah seberapa tepat desain kebijakan pendidikan dan ketenagakerjaan pemerintah dalam mengantisipasi perubahan kebutuhan pasar kerja.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |