Ramai Isu 'Rusuh Agustus Jilid II', IPR Ingatkan Warga Waspadai Provokasi Buzzer di Medsos

3 hours ago 3

Senin, 24 Agustus 2026 - 22:26 WIB

Jakarta, VIVA – Publik belakangan ini diramaikan dengan beredarnya isu potensi kerusuhan di ibu kota yang dinarasikan sebagai "Rusuh Agustus Jilid II". 

Merespons hal tersebut, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan, mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan terjebak dalam skenario ketakutan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Iwan menilai, isu kerusuhan tersebut memang perlu diwaspadai, namun tidak boleh disikapi dengan kepanikan. Pasalnya, narasi ancaman tersebut terpantau jauh lebih masif beredar di dunia maya ketimbang indikator nyata di lapangan.

“Jangan takut, tetapi tetap waspada. Kita harus bisa membedakan antara ancaman keamanan yang nyata dengan perang narasi di media sosial,” ujar Iwan dalam keterangannya, Senin, 24 Agustus 2026.

Lebih lanjut, Iwan menyoroti adanya pola terstruktur dalam penyebaran isu ini. Narasi kerusuhan sengaja diproduksi berulang kali dan didorong oleh berbagai akun untuk menggiring persepsi masyarakat.

“Kalau kita melihat polanya, ada indikasi upaya mengonsolidasikan emosi publik melalui media sosial. Narasi tertentu terus diulang, diperbesar, kemudian didorong oleh jaringan akun dan buzzer. Ini yang harus diwaspadai,” katanya.

Menghadapi pergerakan ruang digital yang bisa memobilisasi opini dan emosi, Iwan mendorong aparat penegak hukum dan intelijen untuk segera memetakan penyebaran konten provokatif tersebut.

“Secara akademis, pola penyebaran informasi, momentum, tema yang digunakan, hingga jaringan akun yang menyebarkannya dapat menjadi indikator untuk membaca kemungkinan adanya aktor atau kepentingan tertentu. Tetapi jangan kemudian kita melakukan tuduhan tanpa bukti. Kalau ada dugaan pelanggaran hukum, tentu harus dibuktikan melalui proses hukum,” tegasnya.

Iwan turut mengingatkan bahaya laten dari kepanikan publik. Ketakutan yang berlebihan karena termakan informasi liar, justru dikhawatirkan dapat memicu situasi tak terkendali yang sebenarnya tidak ada.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Jangan sampai karena terlalu sering diberi narasi tentang kerusuhan, masyarakat kemudian percaya bahwa kerusuhan pasti terjadi. Ini berbahaya. Kepanikan publik justru bisa menjadi bahan bakar yang menciptakan situasi yang sebelumnya belum tentu terjadi,” jelasnya.

Oleh karena itu, masyarakat diminta lebih bijak dalam menyaring informasi. Iwan melarang keras kebiasaan ikut menyebarkan konten yang tak jelas sumbernya, apalagi ajakan kekerasan.

Halaman Selanjutnya

“Pesan saya sederhana: masyarakat tidak perlu takut. Tetap beraktivitas secara normal, tetapi jangan mudah percaya dan jangan ikut menyebarkan provokasi. Verifikasi informasi sebelum membagikannya,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |