Ribuan Pekerja Jaguar Land Rover Terancam PHK Gara-gara Mobil China

4 days ago 7

Rabu, 9 September 2026 - 20:00 WIB

Coventry, VIVA - Jaguar Land Rover (JLR) berencana memangkas sekitar 4.000 posisi pekerjaan dalam dua tahun ke depan. Produsen mobil asal Inggris yang dikenal lewat merek Range Rover, Discovery, dan Jaguar itu tengah berusaha menekan biaya sekaligus menghadapi persaingan yang semakin ketat, termasuk dari produsen mobil China.

Disadur VIVA Otomotif dari Autoevolution, Rabu 9 September 2026, JLR memiliki sekitar 43.000 pekerja secara global dan mayoritas berada di Inggris. Program pengurangan tenaga kerja tersebut terutama menyasar posisi bergaji tetap dan manajemen, bukan pekerja produksi langsung.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Langkah tersebut menjadi bagian dari rencana penghematan senilai 1,7 miliar poundsterling atau sekitar Rp37 triliun jika menggunakan asumsi kurs Rp22.000 per poundsterling. JLR berharap program tersebut dapat menurunkan titik impas perusahaan sehingga hanya membutuhkan penjualan sekitar 300.000 kendaraan per tahun untuk mencapai titik balik modal.

Persaingan dari produsen China menjadi salah satu tantangan yang dihadapi JLR ketika industri otomotif global bergerak menuju elektrifikasi. Merek-merek China menawarkan kendaraan listrik dengan harga yang lebih kompetitif, sehingga produsen lama seperti JLR harus mengeluarkan investasi besar untuk mengembangkan teknologi baru sekaligus menjaga daya saing.

Tekanan tersebut semakin terasa di pasar China, salah satu pasar penting bagi produsen mobil premium. JLR juga menghadapi perlambatan penjualan, sementara biaya produksi dan kondisi geopolitik turut memberikan tekanan terhadap kinerja perusahaan.

Selain persaingan mobil China, kebijakan tarif Amerika Serikat juga menjadi persoalan bagi JLR. Mobil yang diproduksi di Inggris dan diekspor ke Amerika Serikat terkena tarif, meskipun kedua negara telah mencapai kesepakatan yang memberikan tarif lebih rendah untuk kuota tertentu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

JLR juga masih harus memulihkan diri dari serangan siber besar yang terjadi pada 2025. Gangguan tersebut membuat aktivitas produksi di sejumlah fasilitas Inggris terhenti selama beberapa pekan dan memberikan dampak signifikan terhadap produksi serta keuangan perusahaan.

Kinerja keuangan JLR ikut menunjukkan beratnya tekanan tersebut. Pada kuartal yang berakhir Juni 2026, pendapatan perusahaan turun 9,6 persen secara tahunan menjadi sekitar 6 miliar poundsterling, sementara laba sebelum pajak dan pos-pos tertentu turun hampir 69 persen menjadi 109 juta poundsterling.

Halaman Selanjutnya

Meski memangkas ribuan pekerjaan, JLR tidak menghentikan investasi untuk masa depan. Perusahaan berencana mengalokasikan 15 miliar hingga 18 miliar poundsterling dalam lima tahun ke depan untuk elektrifikasi, teknologi digital, peningkatan manufaktur, serta pengembangan pengalaman konsumen.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |