Sama-sama Pakai Mesin dan Motor Listrik, Hybrid Jepang dan China Punya Filosofi Berbeda

7 hours ago 1

Minggu, 23 Agustus 2026 - 20:13 WIB

Jakarta, VIVA – Mobil hybrid dari Jepang dan China kini sama-sama semakin banyak dijual di Indonesia. Meski sama-sama memadukan mesin bensin dan motor listrik, filosofi kerja yang digunakan ternyata bisa berbeda.

Secara sederhana, banyak hybrid Jepang dikembangkan untuk membuat mobil bermesin bensin menjadi lebih hemat bahan bakar. Sementara sejumlah teknologi hybrid dari China justru dirancang agar mobil bisa lebih sering bergerak menggunakan tenaga listrik, dengan mesin bensin mengambil peran sebagai pendukung.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Perbedaan ini terlihat dari cara kedua sistem memanfaatkan baterai. Pada hybrid konvensional yang banyak digunakan merek Jepang, baterai berukuran relatif kecil dan tidak perlu diisi menggunakan listrik dari luar.

Energi baterai diperoleh dari mesin dan proses pengereman regeneratif. Motor listrik kemudian membantu mesin atau bahkan menggerakkan mobil dalam kondisi tertentu, sehingga konsumsi bensin bisa ditekan tanpa pemilik harus mencari stasiun pengisian daya.

Dari rangkuman VIVA Otomotif Minggu 23 Agustus 2026, Toyota menggunakan teknologi series-parallel hybrid yang mengatur kerja mesin bensin dan motor listrik sesuai kondisi berkendara. Tujuan utamanya adalah memanfaatkan sumber tenaga yang paling efisien tanpa mengharuskan pengemudi mengisi baterai secara eksternal.

Honda juga memakai pendekatan serupa melalui teknologi e, meski cara kerja mekanisnya berbeda. Motor listrik dapat menggerakkan roda, sementara mesin bisa menghasilkan listrik atau terhubung langsung sebagai penggerak saat kondisi tertentu dianggap lebih efisien.

Berbeda dengan sejumlah teknologi hybrid dari China, pendekatan elektrifikasi yang digunakan banyak memberikan porsi lebih besar kepada baterai. Hal ini terutama terlihat pada sistem PHEV, yang menggunakan baterai lebih besar dan dapat diisi langsung dari sumber listrik eksternal.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dengan baterai tersebut, mobil bisa berjalan dalam mode listrik murni untuk jarak tertentu sebelum mesin bensin ikut bekerja. Pada titik inilah karakter hybrid China menjadi berbeda, karena kendaraan dirancang agar pengguna dapat menjalani perjalanan harian lebih sering dengan tenaga listrik.

BYD melalui teknologi DM-i, misalnya, mengembangkan sistem yang mengutamakan penggunaan tenaga listrik dalam berbagai kondisi. Motor listrik menjadi penggerak utama, sedangkan mesin bensin dapat memasok energi atau bekerja bersama motor ketika sistem membutuhkan tenaga tambahan.

Halaman Selanjutnya

Geely juga menggunakan pendekatan serupa melalui teknologi EM-i Super Hybrid pada sejumlah modelnya. Baterai yang digunakan lebih besar dibanding hybrid konvensional, sehingga mobil memiliki kemampuan berkendara dalam mode listrik murni dan baru memanfaatkan mesin sesuai kebutuhan sistem.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |