VIVA – Stunting masih menjadi salah satu persoalan kesehatan anak yang perlu mendapat perhatian sejak dini. Kondisi ini bukan sekadar persoalan tinggi badan anak yang lebih rendah dibandingkan standar usianya, tetapi berkaitan dengan gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dapat berdampak dalam jangka panjang.
Yang kerap luput diperhatikan, proses terjadinya stunting tidak selalu dimulai setelah bayi lahir. Risiko gangguan pertumbuhan dapat muncul sejak masa kehamilan, sehingga kesehatan ibu dan kondisi janin menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Masa kehamilan merupakan periode krusial untuk memastikan janin memperoleh lingkungan tumbuh yang optimal. Asupan gizi ibu menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Kekurangan zat gizi dapat memengaruhi kondisi ibu, perkembangan plasenta, hingga pertumbuhan janin.
Jika pertumbuhan janin terganggu, salah satu dampaknya dapat berupa berat badan lahir rendah yang kemudian menjadi salah satu faktor risiko stunting.
Karena itu, ibu hamil perlu memastikan kebutuhan nutrisi terpenuhi melalui pola makan bergizi seimbang serta melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin. Pemantauan pertumbuhan janin juga penting dilakukan agar berbagai faktor risiko dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin.
Pencegahan stunting sendiri tidak hanya berlangsung selama kehamilan. Upaya tersebut idealnya dimulai sejak sebelum kehamilan hingga anak berusia dua tahun atau sepanjang periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Pada periode tersebut, pemenuhan gizi, pencegahan infeksi, pemantauan tumbuh kembang, persalinan yang aman, serta pola pengasuhan menjadi sejumlah aspek yang saling berkaitan.
Dalam konteks tersebut, pemeriksaan kehamilan memiliki peran penting. Melalui pemeriksaan rutin, tenaga kesehatan dapat memantau kondisi ibu dan janin sekaligus mengidentifikasi faktor risiko yang membutuhkan intervensi lebih lanjut.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ketua Umum PP POGI, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.O.G., Subsp. F.E.R., MPH., FRANZCOG (Hons)., FICRM menjelaskan bahwa stunting merupakan kondisi gagal tumbuh yang dapat berawal dari gangguan pertumbuhan linear sejak kehidupan janin.
“Stunting sendiri merupakan manifestasi akhir dari gagal tumbuh akibat gangguan pertumbuhan linear yang dapat dimulai sejak kehidupan janin. Gangguan tersebut dapat berkaitan dengan lingkungan intrauterin (rahim) yang kurang optimal dan kemudian berlanjut akibat kekurangan gizi, infeksi berulang, serta kualitas pengasuhan yang tidak memadai selama 1.000 hari pertama kehidupan. Akibatnya, anak dapat gagal mencapai potensi pertumbuhan dan perkembangan biologisnya secara optimal,” kata Prof. Budi.
Halaman Selanjutnya
Menurutnya, kondisi bayi saat lahir juga perlu menjadi perhatian. Berat badan lahir rendah dapat menjadi salah satu tanda awal yang menunjukkan adanya risiko gangguan pertumbuhan sehingga perlu mendapatkan pemantauan berkelanjutan.

1 week ago
20













