Jakarta, VIVA – Perkembangan cepat dan pesat pada sektor kecerdasan buatan atau artificial (AI), menimbulkan pertanyaan soal apakah AI akan membuat kehidupan manusia lebih baik, atau justru membuat manusia kehilangan sesuatu yang paling mendasar dari dirinya.
Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu fokus dalam gelaran 'World Encounter Summit 2026' yang mempertemukan pemimpin pemerintah, pemuda, akademisi, tokoh agama, perusahaan teknologi, hingga masyarakat sipil dari berbagai negara di Bali.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, Indonesia harus membangun kapasitas sendiri agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi termasuk dalam hal pemanfaatan AI tersebut.
"Salah satunya melalui pengembangan AI yang ditopang energi bersih serta pendidikan STEM," kata Luhut dalam keterangannya, Minggu, 6 September 2026.
Luhut Sebut Dukcapil Jadi Kunci Transformasi Digital Pemerintah, Dorong Layanan Publik Berbasis AI
Sementara Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid menegaskan, tingginya penggunaan AI oleh generasi muda Indonesia, harus diikuti penguatan riset, talenta, infrastruktur, dan kebijakan.
Karena menurutnya, penggunaan AI saja tidak otomatis menjadikan hal tersebut sebagai kapasitas nasional. "Indonesia memiliki peluang menjadi pencipta teknologi, bukan sekadar pasar bagi produk AI dari negara lain," ujar Meutya.
Direktur Eksekutif Scholas Occurrentes, Maria Paz Jurado mengingatkan, pertanyaan terbesar di era AI bukan hanya tentang apa yang mampu dilakukan mesin.
"Karena dunia juga harus menentukan manusia seperti apa yang ingin dibangun bersama teknologi tersebut," ujarnya.
Rangkaian forum dimulai melalui Bali Harmony Dialogue di United In Diversity (UID) Bali Campus, yang berada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali.
Forum tersebut kemudian dilanjutkan dengan XI International Scholas Chairs Congress 2026 pada 4-6 September 2026.
Para peserta dari lima benua membahas dampak AI terhadap berbagai aspek kehidupan, mulai pendidikan, dunia kerja, kesehatan mental generasi muda, demokrasi, hingga hubungan sosial.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Namun, salah satu pembahasan yang cukup menjadi perhatian adalah kesenjangan dalam perkembangan AI. Pasalnya, tidak semua negara memiliki akses yang sama terhadap data, daya komputasi, infrastruktur digital, talenta, maupun kemampuan mengatur teknologi tersebut.
Karena itu, pemerataan manfaat AI dinilai bukan semata persoalan teknologi, melainkan juga menyangkut keadilan sosial, ekonomi, moral, dan lingkungan.
Harus Siap Berdampingan sama AI
Perkembangan AI (artificial intelligence / kecerdasan buatan) di dunia kerja, terutama Indonesia, juga berlangsung semakin cepat. Seberapa cepat 'gerakannya'?
VIVA.co.id
6 September 2026

1 week ago
9













