Tak Hanya Kelola Fiskal Negara, Hal Ini Jadi Tantangan Terbesar Purbaya Saat Jabat Menteri Keuangan

1 hour ago 1

Selasa, 8 September 2026 - 17:48 WIB

Jakarta, VIVA – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap, berbagai tekanan yang dihadapinya selama setahun memimpin Kementerian Keuangan.

Menurut Purbaya, tantangan paling membuat pusing bukan hanya persoalan mengelola fiskal, tetapi bagaimana mengembalikan kepercayaan masyarakat dan investor ketika ekonomi Indonesia diguncang berbagai tekanan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Purbaya mengatakan dirinya langsung menghadapi situasi sulit ketika pertama kali menjabat sebagai Menkeu. Saat itu, Indonesia tengah menghadapi demonstrasi besar sehingga pemerintah harus bergerak cepat untuk memulihkan kepercayaan publik.

“Dukanya apa ya? Jadi kan saya sedang cerita diketawain orang, tapi ngeluh katanya. Pertama kan waktu saya jadi menteri, itu kan kita baru menghadapi demo besar. Saya mesti kembalikan confidence ke masyarakat secepat-cepatnya,” kata Purbaya kepada wartawan di Jakarta Pusat, Selasa, 8 September 2026.

Dalam menghadapi situasi tersebut, Purbaya mengaku menggunakan teori makroekonomi yang pernah dipelajarinya, yakni self-fulfilling prophecy. Teori tersebut, menurut dia, digunakan untuk membentuk ekspektasi masyarakat dan pelaku ekonomi agar kembali melihat prospek perekonomian secara positif.

“Caranya gimana? Saya terapkan apa pengetahuan yang disebut. Saya pernah belajar makroekonomik of self-fulfilling prophecy. Jadi kita membentuk ekspektasi. Dan ekspektasi itu nanti hanya ekonomi yang berjalan ke arah sana, cenderung ke arah sana. (naik),” ungkapnya.

Namun, Purbaya menyadari bahwa mengubah kondisi ekonomi secara langsung membutuhkan waktu. Karena itu, ia memilih membangun optimisme melalui pernyataan yang kemudian justru dianggap sebagian pihak sebagai sikap terlalu percaya diri.

“Dalam waktu dekat kan susah untuk itu. Ya terpaksa ya omong gede. Itu yang dibilang orang sombong, itu Purbaya sombong banget,” tutur dia.

Purbaya menegaskan pernyataan-pernyataan optimistis tersebut bukan sekadar untuk membangun citra, melainkan bagian dari strategi kebijakan untuk membentuk ekspektasi ekonomi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Itu bukan sombong tapi desain untuk membentuk ekspektasi ke depan ke arah yang positif. Jadi kalau kata pengetahuan itu, kata self-fulfilling prophecy itu, kalau semua berpikir ekonomi akan bagus, nanti kenyataannya akan cenderung bagus,” jelasnya.

Purbaya menjelaskan ekspektasi memiliki pengaruh besar terhadap keputusan para pelaku ekonomi. Ketika investor percaya ekonomi akan membaik, investasi akan bergerak. Masyarakat juga terdorong untuk berbelanja, sementara perusahaan lebih berani melakukan ekspansi.

Halaman Selanjutnya

“Karena apa? Investor gak takut investasi, masyarakat gak takut belanja, perusahaan pun gak takut ekspansi. Karena mereka pikir ekonomi akan baik ke depan. Tapi kalau semua berpikir ekonomi akan resesi, ekonomi bisa betul-betul resesi,” ungkap Purbaya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |