Tantangan dan Transformasi Tradisi NU di Abad Kedua

3 weeks ago 4

Rabu, 11 Februari 2026 - 21:04 WIB

Jakarta, VIVA – Memasuki abad kedua perjalanan Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia ini menghadapi tantangan baru yang jauh lebih kompleks dibandingkan era sebelumnya.

Jika pada abad pertama NU berhasil meneguhkan diri sebagai jangkar Islam rahmatan lil ‘alamin yang mengawal tradisi Nusantara berlandaskan Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), maka pada abad kedua NU dituntut mampu beradaptasi dengan disrupsi teknologi, dinamika politik nasional-global, serta perubahan sosial yang sangat cepat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“NU kini berada di persimpangan antara mempertahankan warisan kultural—yang disimbolkan oleh sarung dan kitab kuning—dan kebutuhan untuk bertransformasi menghadapi realitas zaman. NU tidak boleh terjebak dalam romantisme masa lalu. Tradisi harus tetap dijaga, tetapi visi, strategi, dan cara kerja harus diperbarui agar NU benar-benar hadir sebagai pelayan umat di abad modern,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, KH Imam Jazuli dalam keterangan tertulis, Rabu, 11 Februari 2026.

Ia menjelaskan bahwa relasi NU–PKB perlu dibenahi sebagai salah satu tantangan krusial yang disoroti adalah hubungan antara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). 

Sebagai partai yang lahir dari rahim NU, PKB semestinya menjadi instrumen politik yang memperjuangkan kepentingan nahdliyin secara substantif.

Namun, dalam praktiknya, relasi keduanya kerap diwarnai konflik elit, saling delegitimasi, dan tarik-menarik kepentingan, terutama menjelang Pemilu 2024.

“Atas nama Khittah 1926, sebagian elit NU justru bersikap terlalu menjauh dari PKB. Di sisi lain, PKB terkadang lebih sibuk dengan agenda elektoral daripada agenda keberpihakan pada umat. NU perlu kembali berperan sebagai pengawal moral tanpa bersikap antipati terhadap PKB sebagai wadah aspirasi politik warga NU,” ujarnya.

Menurutnya, tantangan berikutnya yang mendesak NU adalah kesenjangan digital. Saat dunia dakwah beralih ke layar kaca digital, konten moderat seringkali kalah cepat dengan narasi ekstrem. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Umat membutuhkan bimbingan agama yang instan namun mendalam, sesuatu yang belum sepenuhnya terpenuhi oleh gerakan dakwah konvensional.

"Secara keilmuan dan sanad, NU harus melahirkan "Ulama Digital" yang tidak hanya mahir bahtsul masail secara tekstual, tetapi juga cakap bahtsul masa'il kontemporer di dunia maya, tranformasi dakwah digital ini adalah keniscayaan,” kata dia.

Halaman Selanjutnya

Di sisi lain, ia mengungkapkan perlunya revitalisasi format dakwah. Dakwah NU selama abad pertama sering mengandalkan panggung dan gebyar seremonial, serta banyak diisi dengan agenda ritual tradisi.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |