Terungkap! Ini Alasan UEA Keluar dari OPEC, Terkait Arab Saudi dan Pakistan

2 days ago 2

Rabu, 29 April 2026 - 16:00 WIB

VIVA –Setelah hampir 60 tahun menjadi anggota dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Uni Emirat Arab (UEA) memutuskan untuk keluar. Keputusan UEA keluar dari OPEC berpotensi menjadi pukulan besar bagi OPEC dan Arab Saudi sekaligus berdampak pada Pakistan.

Keputusan EUA keluar dari keanggotaan OPEC disebut-sebut dipengaruhi Arab Saudi terkait dengan pembatasan produksi minyak.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Uni Emirat Arab tidak senang harus membatasi produksi mereka, apalagi ketika mereka ingin meningkatkan produksi, sementara Arab Saudi justru ingin menguranginya,” kata Firas Maksad, Direktur Timur Tengah di Eurasia Group, kepada Financial Times.

UEA juga merasa kecewa terhadap Pakistan. Selain karena hubungan Islamabad yang semakin erat dengan Arab Saudi, UEA menilai peran Pakistan sebagai mediator antara AS dan Iran terlalu lemah, serta tidak cukup tegas dalam meminta pertanggungjawaban Teheran atas serangan ke kawasan Teluk selama perang.

Peran Pakistan sebagai mediator ini juga membuat UEA kesal. Menurut Neil Quilliam dari Chatham House, UEA melihat situasi saat ini secara hitam-putih. “Dari sudut pandang UEA, tidak ada posisi netral. Tidak ada jalan tengah. Kalau Anda menjadi mediator, berarti Anda berada di tengah,” ujarnya.

Namun di sisi lain, dengan keluarnya UEA dari OPEC disebut dapat menguntungkan negara tersebut. Kok bisa? Melansir laman NDTV, Rabu 29 April 2026, UEA, yang merupakan produsen terbesar ketiga di OPEC, bergabung dengan organisasi tersebut pada 1967. Namun, selama ini kuota produksi OPEC banyak dikendalikan oleh Arab Saudi, sehingga membatasi kemampuan UEA untuk meningkatkan ekspor minyaknya.

Dalam jangka pendek, keluar dari OPEC memberi Abu Dhabi kebebasan untuk merespons peluang pasar, terutama saat pasokan global diperkirakan terbatas, sekaligus memaksimalkan keuntungan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Langkah ini juga menjadi pukulan bagi prestise Arab Saudi karena melemahkan kemampuan Riyadh dalam mengendalikan harga minyak. Selain itu, keputusan ini membantu UEA mendekatkan diri dengan Presiden AS Donald Trump, yang sejak lama dikenal sebagai pengkritik OPEC.

Kekecewaan UEA terhadap Negara Teluk
UEA mengumumkan keputusan besar ini tanpa konsultasi sebelumnya, bahkan saat Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) menggelar pertemuan darurat di Jeddah yang pertama sejak serangan Iran.

Halaman Selanjutnya

Sebagai negara Teluk yang paling dekat secara politik dengan Israel dan paling keras menentang Iran, UEA juga menjadi target terbesar serangan Iran di kawasan, dengan lebih dari 2.200 drone dan rudal berhasil ditangkis, sebagian karena letak geografisnya yang dekat.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |