Jakarta, VIVA – Komisi C DPRD DKI Jakarta dan pengelola Taman Margasatwa Ragunan (TMR) menyepakati rencana penyesuaian tarif tiket masuk demi meningkatkan fasilitas dan kualitas layanan di taman margasatwa tersebut.
Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth menilai penyesuaian tarif tiket memang perlu dilakukan demi membenahi berbagai sarana dan prasarana di Taman Margasatwa Ragunan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Menurut dia, beberapa hal yang dapat ditingkatkan apabila dilakukan penyesuaian tarif tiket, salah satunya, yaitu tingkat keamanan kandang, karena masih ada beberapa kandang yang tingkat keamanannya perlu diperhatikan.
Pada Mei 2026, kata dia, ada seorang anak yang terjatuh ke kandang gajah, sehingga perlu ada evaluasi dengan meningkatkan sektor keamanan kandang agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
“Ini menjadi catatan kami, dan kami berharap standar keamanan bisa ditingkatkan seiring penyesuaian tarif,” tutur Kenneth.
Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan
Photo :
- VIVA.co.id/Fajar Ramadhan
Bang Kent, sapaan akrabnya, mengatakan penyesuaian tarif tiket masuk dapat mengurangi beban subsidi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta karena sejauh ini, APBD masih menanggung biaya operasional Ragunan hingga 70 persen.
Dengan tarif baru, Ragunan diharapkan mampu secara bertahap mentransformasikan diri menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang mandiri.
“Harapan kami, dengan adanya peningkatan tarif ini, Taman Margasatwa Ragunan bisa mandiri secara finansial. Efisiensi pada anggaran APBD nantinya bisa digunakan untuk program lain yang lebih membutuhkan,” ungkap Alumni PPRA Lemhannas RI Angkatan LXII tersebut.
Kenneth juga menyebutkan sejumlah catatan evaluasi kritis dari hasil inspeksi lapangan yang dilakukan pada Kamis 3 September 2026.
Dia mengatakan penambahan pendapatan dari penyesuaian harga tiket masuk harus dialokasikan pada aspek-aspek vital, antara lain perbaikan sanitasi, kebersihan toilet, serta program pemuliaan satwa.
Kemudian, kesejahteraan pegawai dan unsur pendukung Ragunan juga harus diprioritaskan nantinya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Kenneth menegaskan kondisi satwa harus prima, bahkan satwa besar, seperti gorila jantan yang saat ini belum memiliki pasangan, didorong agar ada skema pertukaran satwa antarkebun binatang, sehingga bisa mendapatkan gorila betina dan berkembang biak dengan layak.
“Kesejahteraan pegawai dan petugas teknis di lapangan juga harus diperhatikan. Semua ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” tegas Kenneth.
Halaman Selanjutnya
Penambahan pemasukan yang diterima pengelola Ragunan dari penyesuaian harga tiket masuk, kata dia, juga dapat dimanfaatkan untuk menambah jumlah dokter hewan.

1 week ago
18













