Jakarta, VIVA – Perubahan pola kerja pascapandemi Covid-19 kembali menjadi sorotan. Setelah beberapa tahun tren kerja jarak jauh atau work from home meningkat drastis, kini data terbaru menunjukkan arah yang berbeda.
Di tahun ini, jumlah karyawan yang kembali bekerja penuh dari kantor atau work from office (WFO) justru mencapai level tertinggi sejak sebelum pandemi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Fenomena ini memicu perdebatan baru mengenai masa depan sistem kerja hybrid dan hak pekerja untuk bekerja dari rumah atau work from home (WFH). Di satu sisi, perusahaan mendorong kehadiran fisik demi produktivitas dan kolaborasi, tetapi sejumlah kalangan menilai fleksibilitas kerja tetap relevan dengan kondisi sosial dan ekonomi saat ini.
Melansir dari RTE, Sabtu, 21 Februari 2026, data terbaru dari Irlandia menunjukkan jumlah pekerja yang bekerja dari rumah turun 15.900 orang dalam setahun terakhir, setara dengan 1,6 persen dari total angkatan kerja. Saat ini, total pekerja yang masih bekerja dari rumah tercatat sebanyak 956.700 orang.
Sebaliknya, jumlah pekerja yang sama sekali tidak pernah bekerja dari rumah justru meningkat signifikan. Angkanya naik 74.200 orang menjadi 1.865.600 pekerja. Ini menjadi angka tertinggi untuk kategori pekerja kantor sejak sebelum pandemi Covid-19.
Kenaikan jumlah karyawan yang kembali ke kantor menunjukkan adanya perubahan kebijakan di berbagai organisasi. Banyak perusahaan mulai memperketat aturan kehadiran fisik dan mengurangi fleksibilitas kerja jarak jauh.
Di tengah perubahan tren ini, muncul dorongan agar pekerja memiliki hak lebih kuat untuk bekerja secara remote. Associate Professor di University of Limerick, Sarah Kieran, menilai diskusi mengenai hak kerja dari rumah merupakan percakapan yang sangat penting.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Partai Buruh setempat mengusulkan rancangan undang-undang Work Life Balance, Right to Remote Work Bill 2026, yang bertujuan memberikan hak lebih besar kepada pekerja terkait kerja dari rumah. Kieran menilai berbagai pemangku kepentingan memiliki peran penting dalam mendorong diskusi ini.
Menurut Kieran, terdapat banyak faktor ekonomi dan sosial yang perlu dipertimbangkan dalam kebijakan kerja jarak jauh. “Ada banyak faktor ekonomi dan sosial yang sangat nyata bagi karyawan terkait waktu perjalanan, biaya perjalanan, dan perumahan terjangkau yang mendorong orang keluar dari kota,” ungkapnya.
Halaman Selanjutnya
Namun, ia juga mengingatkan dampak besar jika seluruh pekerja sepenuhnya bekerja dari rumah. “Tetapi, jika semua orang bekerja dari rumah, mata pencaharian ekonomi akan hancur,” katanya.

2 weeks ago
7











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479806/original/021929400_1768990958-makanan_beku_sehat.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500390/original/054028400_1770863825-IMG01145.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)
