VIVA – Memasuki usia 30 dan 40-an, perubahan pada kulit biasanya mulai semakin mudah terlihat. Garis halus yang sebelumnya samar bisa menjadi lebih jelas, kulit terasa tidak sekenyal dulu, sementara noda akibat paparan matahari perlahan semakin tampak.
Pada fase ini, rutinitas perawatan kulit pun sering ikut berubah. Jika sebelumnya kulit cantik identik dengan wajah mulus, cerah, dan bebas kerutan, standar tersebut perlahan mulai bergeser.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Perhatian tidak lagi hanya tertuju pada bagaimana menyamarkan tanda penuaan, tetapi juga bagaimana mempertahankan kesehatan kulit dalam jangka panjang. Berikut penjelasannya, sebagaimana dihimpun Viva pada Jumat, 4 Agustus 2026.
1. Penuaan kulit bukan hanya soal kerutan
Kerutan sebenarnya hanya salah satu tanda dari proses penuaan kulit yang jauh lebih kompleks. Literatur dermatologi mengungkapkan bahwa penuaan kulit menjadi dua proses utama, yakni penuaan intrinsik yang berlangsung secara alami dan penuaan ekstrinsik yang dipengaruhi lingkungan.
Pada penuaan intrinsik, perubahan pada dermis antara lain berkaitan dengan berkurangnya kolagen, perubahan jaringan elastin, serta menurunnya hidrasi kulit. Sementara itu, paparan sinar ultraviolet menjadi salah satu faktor utama penuaan ekstrinsik atau photoaging.
Artinya, ketika Anda memasuki usia 30 dan 40-an, kondisi kulit yang terlihat di cermin merupakan hasil dari proses biologis sekaligus paparan lingkungan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
2. Fokus perawatan mulai bergeser ke skin longevity
Perubahan tersebut ikut mendorong cara pandang baru dalam merawat kulit. Alih-alih hanya berusaha menghilangkan tanda usia yang sudah muncul, perhatian mulai diarahkan pada bagaimana menjaga kualitas kulit selama mungkin.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Konsep tersebut berkaitan dengan skin longevity, istilah yang menggambarkan pendekatan untuk mempertahankan kesehatan dan fungsi kulit dalam jangka panjang. Dengan perspektif ini, penuaan tidak selalu dipandang sebagai sesuatu yang harus dilawan, melainkan proses yang perlu dikelola melalui perawatan dan kebiasaan yang tepat.
Hal tersebut juga disampaikan Kepala Departemen Dermatologi RSPNN dr. Ruri Diah Pamela, Sp.D.V.E, FINSDV, FAADV. "Sebagai dokter yang menekuni bidang ini, saya melihat tren longevity yang tengah menjadi trend global bukan sekadar gaya hidup, melainkan cara berpikir baru, bagaimana menjaga kulit tetap sehat dan berfungsi baik selama mungkin, bukan sekadar menutupi tanda usia," ujarnya, dikutip dari keterangannya.
Halaman Selanjutnya
Menurutnya, pendekatan terhadap kulit juga perlu melihat apa yang terjadi lebih jauh dari permukaan.

1 week ago
10













