VIVA – Indonesia kembali menghadapi rangkaian fenomena alam yang menjadi perhatian masyarakat dalam beberapa hari terakhir. Salah satunya adalah meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
Badan Geologi mencatat Gunung Anak Krakatau mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam sejak 4 September 2026 malam. Setelah episode tersebut berakhir, aktivitas vulkanik masih berlanjut dengan sejumlah erupsi strombolian. Status Gunung Anak Krakatau juga masih berada di Level III atau Siaga.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Erupsi tersebut bahkan berdampak terhadap aktivitas penerbangan. Abu vulkanik menyebabkan sejumlah bandara sempat menghentikan operasionalnya dan mengganggu perjalanan ratusan ribu penumpang. Selain Anak Krakatau, sejumlah gunung api lain seperti Semeru, Merapi, Lewotobi Laki-laki, dan Sinabung juga berada dalam perhatian pemantauan aktivitas vulkanik.
Di sisi lain, Indonesia juga masih menghadapi persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemerintah memperkuat pengendalian di sejumlah provinsi prioritas, sementara kondisi cuaca kering dan pengaruh El Nino membuat September menjadi periode yang perlu diwaspadai.
Kementerian Kehutanan pada 9 September 2026 mencatat masih terdapat 397 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional berdasarkan pemantauan satelit. Sebelumnya, pada 4 September, jumlah hotspot bahkan mencapai 818 titik.
Di tengah berbagai peristiwa tersebut, pendakwah Ustaz Adi Hidayat mengajak masyarakat melakukan introspeksi dan memperbanyak istighfar. Ia menyerukan apa yang disebutnya sebagai taubat nasional, yakni momentum bersama untuk kembali mengevaluasi diri dan memperkuat hubungan spiritual kepada Allah SWT.
"Mari kita introspeksi diri. Menghadirkan suasana taubat nasional yang lebih luas. Tidak hanya melihat ragam bentuk kesulitan-kesulitan saat ini sebagai fenomena alam, sebagai bagian dari siklus yang mungkin dijalani dalam kehidupan," kata Ustaz Adi Hidayat, mengutip unggahan akun X @lambesahamjja, Kamis 10 September 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Menurutnya, berbagai peristiwa yang terjadi tidak semata-mata perlu dilihat dari satu sudut pandang. Selain memahami bencana berdasarkan ilmu pengetahuan dan faktor alam, ia mengajak masyarakat menggunakan momentum tersebut untuk melakukan refleksi spiritual.
"Kita punya jiwa spiritual, kita punya karakter berketuhanan Yang maha Esa. Bahkan ini jadi filosofi dasar dalam berbangsa dan bernegara," katanya.
Halaman Selanjutnya
Ustaz Adi Hidayat kemudian menekankan pentingnya menyeimbangkan kehidupan manusia. Kemajuan intelektual dan kemampuan fisik, menurutnya, tetap perlu disertai dengan kesadaran spiritual.

4 days ago
15













