Jakarta, VIVA – Kontroversi yang menyeret nama Dwi Sasetyaningtyas alias Tyas belum juga mereda. Setelah ucapannya soal kewarganegaraan viral dan memicu kemarahan, perhatian warganet kini bergeser pada satu hal krusial: rekam jejak akademiknya sebagai penerima beasiswa negara dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Polemik bermula dari unggahan media sosial pada pertengahan Februari 2026, ketika wanita yang akrab disapa Tyas itu membagikan momen penerimaan paspor Inggris untuk anak keduanya. Dalam video yang kini telah dihapus, ia mengucapkan kalimat yang menuai kritik tajam. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Aku tahu dunia terlihat enggak adil, tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu," ucapnya dalam unggahan yang kini telah dihapus tersebut, dikutip Senin 23 Februari 2026.
Pernyataan itu dianggap sebagian publik sebagai bentuk ketidakbanggaan terhadap identitas kewarganegaraan Indonesia. Lebih jauh, statusnya sebagai alumnus LPDP membuat respons publik semakin keras. Banyak yang mempertanyakan etika seorang penerima beasiswa negara yang pendidikannya dibiayai dari uang rakyat.
Jejak Akademik yang Jadi Sorotan
Secara akademik, Dwi memiliki latar belakang yang mentereng. Ia merupakan lulusan Teknik Kimia dari Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2008. Setelah menyelesaikan studi sarjana, ia melanjutkan pendidikan magister di Delft University of Technology (TU Delft), Belanda, dengan fokus pada Sustainable Energy Technology.
Program S2 tersebut dibiayai penuh oleh LPDP pada 2015. Di titik inilah perdebatan etika mengemuka. Warganet mempertanyakan bagaimana seorang intelektual yang mendapat dukungan finansial negara bisa melontarkan pernyataan yang dinilai sebagian pihak seolah ingin “menjauh” dari Indonesia.
Klarifikasi dan Status Pengabdian
Menjawab tudingan yang berkembang, pendiri platform Sustaination itu memberikan klarifikasi tertulis pada 20 Februari 2026. Ia menegaskan tidak ada pelanggaran kontrak beasiswa.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Secara administratif, saya telah menuntaskan kewajiban pengabdian saya kepada Indonesia selama enam tahun, terhitung sejak 2017 hingga 2023, setelah menyelesaikan studi S2 saya," ungkapnya dalam pernyataan resmi di akun media sosial pribadinya.
Dwi juga menjelaskan bahwa kepindahannya ke Inggris saat ini berkaitan dengan studi doktoral (DPhil) yang ia jalani di University of Oxford, sekaligus mendampingi sang suami yang tengah menempuh pendidikan S3 di kampus yang sama. Ia menegaskan, studi doktoralnya tersebut tidak didanai LPDP.
Halaman Selanjutnya
Administratif Tuntas, Etika Dipertanyakan

2 weeks ago
6











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479806/original/021929400_1768990958-makanan_beku_sehat.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500390/original/054028400_1770863825-IMG01145.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)
