Wamenkomdigi Bongkar Cara Halus AI dan Algoritma Menjajah Isi Kepala Kita

2 weeks ago 5

Senin, 25 Mei 2026 - 13:05 WIB

Jakarta, VIVA - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan generasi muda Indonesia menghadapi bentuk baru penjajahan di era digital, yakni dominasi algoritma yang secara perlahan membentuk cara berpikir, perilaku, hingga persepsi publik.

Menurutnya, masyarakat saat ini hidup dalam ruang digital yang dikendalikan platform dan algoritma media sosial, membuat manusia semakin sulit membedakan fakta, opini, hingga manipulasi informasi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Hari ini hidup kita dimediasi platform digital. Bahkan isi kepala kita perlahan dibentuk algoritma. Apa yang kita suka terus diperlihatkan, sementara pandangan lain disingkirkan. Kita hidup dalam filter bubble dan echo chamber,” katanya di Jakarta, Senin, 25 Mei 2026.

Wamenkomdigi menilai kondisi tersebut menjadi ancaman serius karena dapat memicu polarisasi sosial, memperkuat misinformasi, dan melemahkan kemampuan berpikir kritis masyarakat, terutama generasi muda.

Ia mengutip laporan World Economic Forum atau WEF yang menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai salah satu risiko global terbesar tahun ini, bahkan melampaui banyak ancaman geopolitik dunia.

“Sekarang orang lebih dulu percaya sentimen dibanding fakta. Kalau suka langsung dipercaya, kalau tidak suka langsung ditolak. Ini yang berbahaya,” tegas Nezar Patria.

Dalam paparannya, dirinya juga menyoroti perubahan besar akibat perkembangan artificial intelligence (kecerdasan artifisial) atau AI yang kini bergerak sangat cepat, mulai dari generative AI, agentic AI, hingga physical AI berbasis robotika.

Menurutnya, dunia sedang memasuki fase baru persaingan global yang bukan lagi sekadar perebutan sumber daya alam, tetapi penguasaan data, komputasi, semikonduktor, dan talenta digital.

“Saat ini, perang yang paling penting adalah perang chip AI dan penguasaan teknologi. Kalau Indonesia hanya jadi pengguna teknologi, bonus demografi kita akan hilang tanpa dampak besar,” tegas Wamenkomdigi Nezar Patria.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia juga menjelaskan Indonesia sebenarnya memiliki modal besar berupa bonus demografi dan kekayaan mineral strategis yang dibutuhkan industri teknologi global. Namun, dirinya mengingatkan bahwa keunggulan itu tidak akan berarti tanpa kualitas sumber daya manusia yang mampu menguasai sains dan teknologi.

Karena itu, dirinya meminta generasi muda memperkuat kemampuan science, technology, engineering, and mathematics atau STEM serta meningkatkan literasi digital agar tidak mudah terjebak manipulasi algoritma. “Kita jangan hanya jadi pasar dan konsumen teknologi,” papar dia.

Pendiri ChatGPT Sam Altman.

OpenAI Buka Lowongan Kerja Gaji Rp7 Miliar Per Tahun, Minat?

OpenAI membuka lowongan peneliti AI dengan gaji hingga Rp7,8 miliar per tahun untuk menghadapi risiko AI yang mampu melatih dirinya sendiri. Baca di sini

img_title

VIVA.co.id

25 Mei 2026

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |