Jakarta, VIVA - Hari Raya Idul Fitri selalu menjadi momen yang dinanti umat Muslim. Selain menjadi ajang silaturahmi, pelaksanaan Shalat Id juga menjadi salah satu syiar penting yang menghadirkan kebersamaan dan kebahagiaan setelah sebulan penuh menjalani ibadah Ramadan
Di tengah euforia Hari Kemenangan, masih banyak muslimah yang bertanya-tanya apakah wanita yang sedang haid boleh menghadiri pelaksanaan Shalat Id?
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pertanyaan ini dijawab oleh Ustaz Khalid Basalamah dalam salah satu kajiannya. Ia menegaskan, wanita yang sedang haid tetap dianjurkan hadir dalam pelaksanaan Shalat Id, meskipun tidak ikut menunaikan shalat. Menurut Ustaz Khalid, dua hari raya dalam Islam (Idul Fitri dan Idul Adha) merupakan waktu bagi umat Islam untuk menunjukkan kebahagiaan secara terbuka.
Ustaz Khalid menekankan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan seluruh umat Islam untuk menghadiri Shalat Id, tanpa terkecuali. Anjuran ini berlaku bagi laki-laki, perempuan, anak-anak, hingga orang tua, termasuk wanita yang sedang haid.
“Termasuk wanita yang berhalangan pun disuruh hadir, kalau mereka tidak bisa ikut shalat minimal mendengarkan khutbahnya,” ucap Ustaz Khalid dikutip dari tvonenews pada Jumat, 20 Maret 2026.
Ia menjelaskan, kehadiran wanita haid dalam pelaksanaan Shalat Id memiliki hikmah tersendiri. Selain tetap merasakan suasana kebersamaan di Hari Kemenangan, kaum Hawa juga bisa menyimak khutbah yang berisi nasihat dan pengingat penting bagi kehidupan umat Islam.
Dengan demikian, wanita haid tetap menjadi bagian dari syiar Islam, meskipun tidak menjalankan shalat secara langsung. Kehadiran umat dalam jumlah besar pada Shalat Id juga menjadi simbol persatuan dan kekuatan iman.
Dalam pandangan ulama, hukum Shalat Id sendiri memang memiliki perbedaan. Sebagian menyebutnya sebagai sunnah muakkad, sementara yang lain menganggapnya wajib.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Pendapat yang mewajibkan biasanya merujuk pada kebiasaan Rasulullah SAW yang selalu melaksanakannya dan menganjurkan seluruh umat untuk hadir.
Lebih lanjut, Ustaz Khalid menjelaskan bahwa Nabi Muhammad makan terlebih dahulu sebelum berangkat Shalat Id. Hal ini menjadi tanda bahwa ibadah puasa telah berakhir dan umat Islam kembali diperbolehkan makan di pagi hari.
Halaman Selanjutnya
Selain itu, beberapa sunnah lain yang dianjurkan antara lain menempuh rute berbeda saat berangkat dan pulang dari lokasi Shalat Id. Amalan ini dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW sebagai bentuk syiar sekaligus memperluas silaturahmi.

5 hours ago
2











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)
