AI, Semikonduktor, hingga Energi Hijau: Mesin Baru Ekonomi Asia Pasifik

6 days ago 5

Kamis, 5 Maret 2026 - 16:35 WIB

Jakarta, VIVA - Sebagian besar investor pasar saham Indonesia tahun ini merasakan bahwa kebangkitan sentimen dan kinerja pasar modal yang sebelumnya diharapkan dapat segera mulai seiring dengan pemulihan pertumbuhan ekonomi, sepertinya masih harus kembali ditunggu sedikit lebih lama.

Kendati stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga, namun masih ada beberapa dinamika baik global maupun domestik yang membuat investor ragu untuk mengambil keputusan investasi, eskalasi geopolitik yang kembali meningkat di Timur Tengah, dan tantangan struktural di dalam negeri membuat pasar keuangan Indonesia akan bergerak secara hati-hati.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Senior Portfolio Manager, Asia Pacific Equities, Manulife Investment Management, Marco Giubin, beberapa negara di kawasan ini sedang menyiapkan gelombang ekspansi ekonomi yang ditopang oleh pemulihan manufaktur, peningkatan belanja konsumen, serta akselerasi transformasi digital.

Bicara transformasi digital tidak terlepas dari siklus teknologi, terutama yang terkait dengan revolusi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi salah satu penopang ekonomi di Asia Pasifik pada tahun lalu.

Publikasi terbaru Dana Moneter Internasional atau IMF menunjukkan bahwa 2026 akan diwarnai pertumbuhan ekonomi kawasan 'Emerging and Developing Asia' tetap resilien, dengan potensi pertumbuhan sekitar lima persen.

Salah satu sinyal kuat datang dari pasar modal, yaitu pasar saham dari beberapa negara di kawasan Asia Pasifik diproyeksikan mencetak rekor pada 2026, dengan pipeline IPO yang sangat kuat, megadeals besar, serta berbagai aktivitas pendanaan ekuitas yang mengindikasikan dinamika pertumbuhan perusahaan-perusahaan di kawasan ini.

"Fenomena ini menunjukkan bahwa Asia Pasifik sedang memasuki fase ekspansi bisnis yang menarik bagi investor global, mulai dari Korea Selatan dan Taiwan yang memimpin inovasi teknologi, hingga India dan negara-negara ASEAN yang terus memperluas pasar domestiknya," kata Marco, Kamis, 5 Maret 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu, tren global seperti relokasi manufaktur, diversifikasi rantai pasok, dan peningkatan kebutuhan teknologi membuat Asia Pasifik menjadi wilayah yang mendapat aliran modal signifikan.

China, meskipun menghadapi perlambatan struktural, tetap menjadi penggerak penting dalam ekosistem industri regional. Negara lain yang diuntungkan oleh pergeseran rantai pasok global juga menunjukkan kinerja kuat, mengimbangi risiko ekonomi global yang masih ada.

Halaman Selanjutnya

Sementara itu, prospek penurunan suku bunga oleh bank sentral utama dunia berpotensi meningkatkan likuiditas dan minat investasi ke kawasan Asia Pasifik di sepanjang 2026.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |