Harga Emas Dunia Menguat di Tengah Ketegangan Iran, Investor Berburu Safe Haven

3 hours ago 2

Rabu, 11 Maret 2026 - 17:30 WIB

Jakarta, VIVA Harga emas dunia kembali bergerak naik di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat investor semakin berhati-hati sehingga permintaan terhadap aset safe haven seperti emas meningkat.

Di saat yang sama, pelaku pasar juga tengah menunggu data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis dalam waktu dekat. Data tersebut dianggap penting karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral serta kondisi ekonomi global.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Melansir dari Investing, Rabu, 11 Maret 2026, harga emas tercatat naik tipis dalam perdagangan Asia, seiring pasar mencerna berbagai sinyal yang saling bertentangan terkait konflik di Timur Tengah. Perhatian investor juga tertuju pada potensi gangguan di pasar energi serta kemungkinan berakhirnya konflik tersebut.

Harga emas spot naik sekitar 0,2 persen menjadi US$5.204,29 per ons atau setara sekitar Rp87,43 juta per ons (kurs Rp16.800). Sementara itu, kontrak berjangka emas justru turun sekitar 0,5 persen menjadi US$5.213,11 per ons atau setara sekitar Rp87,58 juta per ons.

Kenaikan harga pada Rabu membuat emas menembus kisaran perdagangan US$5.000 hingga US$5.200 per ons yang terjadi selama sepekan terakhir. Namun, pelaku pasar masih menilai apakah kenaikan tersebut dapat bertahan dalam jangka pendek.

Dalam beberapa minggu terakhir, harga emas memang mengalami volatilitas yang cukup tinggi. Logam mulia ini sempat turun tajam setelah sebelumnya menyentuh rekor mendekati US$5.600 per ons atau sekitar Rp94,08 juta per ons pada akhir Januari.

Kondisi geopolitik menjadi salah satu faktor utama yang memicu fluktuasi harga tersebut. Sinyal yang saling bertentangan terkait perang Iran juga membuat pergerakan pasar menjadi tidak stabil. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat menyatakan bahwa konflik tersebut hampir berakhir. Namun hingga Rabu dini hari, serangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran masih terus berlangsung. Konflik tersebut bahkan telah memasuki hari ke-12 tanpa tanda-tanda mereda.

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, pasar juga khawatir bahwa lonjakan harga energi dapat memicu inflasi global yang lebih tinggi. Kondisi tersebut berpotensi mendorong bank sentral di berbagai negara mengambil kebijakan moneter yang lebih ketat.

Halaman Selanjutnya

Kekhawatiran tersebut sempat menahan kenaikan harga emas meskipun permintaan terhadap aset aman meningkat cukup tajam. Dalam kondisi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik, emas biasanya menjadi pilihan utama investor karena dianggap mampu menjaga nilai aset.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |