Air Jernih Belum Tentu Aman, Ketahui Dampaknya bagi Tumbuh Kembang Anak

3 days ago 2

Selasa, 28 April 2026 - 16:44 WIB

Jakarta, VIVA – Di banyak rumah tangga Indonesia, air kerap dianggap sebagai kebutuhan dasar yang “aman” selama tampil jernih, tidak berbau, dan terasa segar. Namun, pandangan ini mulai dipertanyakan setelah munculnya temuan ilmiah terbaru yang menyoroti peran kualitas air dalam kesehatan dan perkembangan anak.

Sebuah publikasi dalam jurnal International Journal of Environmental Research and Public Health mengungkap bahwa kualitas air minum memiliki kaitan erat dengan pertumbuhan anak, bahkan lebih besar dari yang selama ini dipahami. Scroll lebih lanjut yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Studi yang dilakukan oleh Tria Rosemiarti bersama timnya menelaah 15 penelitian dari berbagai negara selama 15 tahun terakhir. Hasilnya menunjukkan pola konsisten: kontaminasi mikrobiologis air, terutama oleh bakteri Escherichia coli, dapat meningkatkan risiko stunting hingga lebih dari empat kali lipat.

Temuan ini menjadi pengingat penting bahwa air jernih belum tentu aman. Dalam banyak kasus, kontaminasi tidak terjadi di sumber air, melainkan saat air digunakan di rumah tangga. 

Proses penyimpanan di wadah terbuka, pemindahan ke botol, atau penggunaan alat makan yang kurang higienis dapat menjadi titik masuk bakteri berbahaya. Artinya, akses terhadap air “layak” belum menjamin keamanan konsumsi di tingkat rumah.

Lebih jauh, dampak air tercemar tidak selalu terlihat secara langsung. Salah satu mekanisme yang diungkap dalam studi tersebut adalah Environmental Enteric Dysfunction (EED), yaitu gangguan kronis pada usus akibat paparan bakteri. 

Kondisi ini menyebabkan peradangan ringan yang tidak menimbulkan gejala seperti diare, tetapi mengganggu penyerapan nutrisi. Akibatnya, anak bisa mengalami hambatan pertumbuhan meskipun asupan gizinya cukup.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tidak hanya berdampak pada fisik, kualitas air juga berpengaruh terhadap perkembangan kognitif. Beberapa studi jangka panjang menemukan bahwa anak-anak yang terpapar air aman sejak dalam kandungan cenderung memiliki kemampuan memori dan bahasa yang lebih baik saat memasuki usia sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa air berperan dalam membentuk kemampuan belajar dan adaptasi anak di masa depan.

Periode usia 6 hingga 24 bulan disebut sebagai fase paling krusial. Pada masa ini, anak mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI (MPASI), sehingga kebutuhan air meningkat signifikan. Jika air yang digunakan tidak aman, risiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan bisa berdampak permanen.

Halaman Selanjutnya

Meski demikian, perbaikan kualitas air saja tidak cukup. Paparan kuman juga dapat berasal dari lingkungan sekitar, seperti tangan yang tidak bersih, peralatan makan, hingga kondisi lantai rumah. 

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |