Aktivis Dorong PSN Wanam Perkuat Pendidikan Masyarakat Adat Agar Manfaat Pembangunan Maksimal

6 hours ago 1

Jumat, 24 Juli 2026 - 21:17 WIB

Jakarta, VIVA – Proyek Strategis Nasional (PSN) di Wanam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, dinilai menjadi peluang besar untuk mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia masyarakat adat.

Karena itu, pembangunan yang tengah berjalan diharapkan dibarengi dengan penguatan sektor pendidikan agar generasi muda Papua mampu mengambil peran dalam pembangunan di daerahnya sendiri.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pandangan tersebut disampaikan Aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) asal Wanam, Yohanis Samuel, saat menghadiri Konsultasi Publik bertajuk Perumusan Model Pendidikan Nonformal Berbasis Komunitas, Pendampingan Belajar, dan Pengasuhan yang Berakar pada Budaya Lokal dalam Menjaring Aspirasi, Menyelaraskan Aksi, Mewujudkan Generasi Papua Unggul yang digelar Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) di Aula Anim Ha, Merauke, Jumat, 24 Juli 2026.

Menurut Yohanis, percepatan pembangunan melalui PSN akan membuka berbagai peluang baru bagi masyarakat. Oleh sebab itu, peningkatan kualitas pendidikan perlu berjalan seiring agar masyarakat adat, khususnya generasi muda, dapat menjadi bagian dari kemajuan yang dihadirkan pemerintah.

"PSN Wanam harus menjadi momentum meningkatkan kualitas sumber daya manusia masyarakat adat. Jangan sampai pembangunan berkembang pesat, tetapi anak-anak asli Wanam justru tertinggal karena tidak memperoleh pendidikan yang memadai. Mereka harus dipersiapkan sejak sekarang agar mampu mengambil peran sebagai tenaga profesional, pengusaha, maupun pemimpin di tanahnya sendiri," ujar Yohanis dalam keterangan kepada wartawan, Jumat, 24 Juli 2026.

Dia menilai pembangunan dan modernisasi tidak perlu dipertentangkan dengan upaya menjaga identitas budaya masyarakat adat. Menurutnya, keduanya dapat berjalan beriringan melalui sistem pendidikan yang memperkuat karakter sekaligus meningkatkan daya saing generasi muda Papua.

"Kita tidak menolak kemajuan. Namun, pendidikan tidak boleh membuat anak-anak Papua tercerabut dari akar budayanya. Modernisasi harus berjalan berdampingan dengan pelestarian identitas lokal sehingga generasi muda mampu bersaing secara global tanpa kehilangan jati dirinya sebagai masyarakat adat," katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Yohanis juga mendorong agar pengembangan pendidikan nonformal di Papua disesuaikan dengan karakter sosial dan budaya masyarakat setempat sehingga mampu memberikan manfaat yang lebih optimal.

"Papua memiliki kekayaan budaya dan sistem sosial yang berbeda. Karena itu, pendidikan nonformal harus dikembangkan berdasarkan kebutuhan masyarakat lokal, menghormati nilai-nilai adat, bahasa daerah, serta melibatkan tokoh adat dan tokoh masyarakat sebagai bagian dari proses pembelajaran. Dengan demikian, pendidikan menjadi instrumen pemberdayaan, bukan sekadar transfer pengetahuan," ujarnya.

Halaman Selanjutnya

Dia berharap kehadiran PSN menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperluas akses pendidikan, pelatihan keterampilan, hingga kesempatan kerja bagi masyarakat adat di wilayah yang terdampak pembangunan.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |