Benarkah Erupsi Gunung Anak Krakatau Bisa Mendinginkan Bumi? Ini Penjelasan Ilmiahnya

5 hours ago 1

Rabu, 9 September 2026 - 12:02 WIB

VIVA – Selama ini letusan gunung api identik dengan bencana, mulai dari abu vulkanik yang mengganggu pernapasan hingga lava dan awan panas yang dapat membahayakan wilayah sekitar. Namun, ada satu fakta yang mungkin terdengar berlawanan dengan bayangan tersebut, letusan gunung api tertentu justru bisa membuat suhu Bumi turun.

Fenomena itu bukan sekadar teori. Sejumlah letusan besar dalam sejarah pernah membuat suhu rata-rata global menurun untuk sementara. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Lantas, bagaimana mungkin gunung yang memuntahkan material panas justru memiliki efek mendinginkan Bumi? Pertanyaan ini kembali menarik perhatian di tengah erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang terjadi belakangan ini.

Mengapa erupsi gunung bisa membuat Bumi dingin?

Melansir dari situs NASA, Rabu, 9 September 2026, erupsi gunung api dapat mengeluarkan berbagai material ke atmosfer, termasuk abu dan sejumlah gas. Salah satu yang paling berpengaruh terhadap iklim adalah sulfur dioksida atau SO₂.

Ketika sebuah erupsi sangat besar membuat SO₂ mencapai lapisan stratosfer, gas tersebut dapat mengalami reaksi kimia dan membentuk aerosol sulfat. Partikel berukuran sangat kecil ini kemudian dapat menyebar di atmosfer dalam wilayah yang luas.

Aerosol sulfat mampu memantulkan sebagian radiasi Matahari kembali ke angkasa. Akibatnya, energi Matahari yang mencapai permukaan Bumi menjadi lebih sedikit. Kondisi tersebut dapat menyebabkan suhu rata-rata permukaan Bumi turun untuk sementara.

Jadi, bukan abu vulkanik semata yang menjadi penyebab utama pendinginan. Gas sulfur dioksida dan aerosol sulfat yang terbentuk setelahnya, memiliki peran jauh lebih besar dalam proses tersebut.

Tidak semua erupsi bisa mendinginkan Bumi

Namun, jangan buru-buru menganggap setiap gunung yang meletus akan membuat suhu global turun.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dampak terhadap iklim sangat bergantung pada ukuran erupsi, jumlah SO₂ yang dilepaskan, serta seberapa tinggi gas dan material vulkanik berhasil mencapai atmosfer.

Pada erupsi yang relatif kecil, sebagian besar material biasanya berada di lapisan atmosfer yang lebih rendah dan kemudian jatuh kembali ke permukaan dalam waktu relatif singkat. Pengaruhnya terhadap suhu global pun sangat terbatas.

Halaman Selanjutnya

Situasinya berbeda pada letusan eksplosif dalam skala besar. Jika SO₂ dalam jumlah besar mencapai stratosfer, aerosol sulfat yang terbentuk dapat bertahan lebih lama dan menyebar jauh dari lokasi gunung api.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |