Bitcoin Tiba-Tiba Ambruk ke US$63.000 Usai Serangan AS dan Israel ke Iran

1 week ago 9

Minggu, 1 Maret 2026 - 09:36 WIB

Jakarta, VIVA – Harga kripto terbesar dunia, Bitcoin, mengalami tekanan tajam setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan militer ke Iran. Harga Bitcoin bahkan sempat merosot mendekati level US$63.000 pada perdagangan Sabtu, 28 Februari 2026.

Penurunan ini terjadi cepat di mana Bitcoin kehilangan sekitar 3 persen hanya dalam hitungan jam. Level tersebut menjadi mendekati titik terendah di bawah US$60.000 yang terjadi pada 5 Februari 2026 lalu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meski sempat pulih dan menyentuh kisaran US$65.000, Bitcoin kembali melemah ke sekitar US$64.700 seiring konflik yang terus berkembang hingga Sabtu, 28 Februari 2026. Pergerakan ini menunjukkan tekanan jual masih mendominasi pasar kripto.

Dikutip dari CoinMarketCap hingga pukul 08.41 WIB pada Minggu, 1 Maret 2026, Bitcoin menunjukkan pemulihan sebesar 1,31 persen dalam 24 jam terakhir. Kenaikan mendorong harga Bitcoin bertengger di level US$66.762,06 atau sekitar Rp 1,12 miliar (estimasi kurs Rp 16.800 per dolar AS).

Melansir Coindesk, Analis melihat pelemahan Bitcoin mengikuti pola yang sudah sering terjadi ketika muncul guncangan geopolitik. Tidak seperti saham atau obligasi yang memiliki jam perdagangan terbatas, Bitcoin diperdagangkan 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu. Kondisi ini membuat Bitcoin menjadi salah satu aset paling likuid yang bisa langsung dijual investor saat risiko global meningkat, terutama saat pasar tradisional tutup di akhir pekan.

Akibatnya, Bitcoin kerap menjadi semacam katup pelepas tekanan bagi sentimen risk-off global, menyerap aksi jual yang dalam kondisi normal juga akan terjadi di pasar saham, komoditas, maupun mata uang.
Meski demikian, ketidakmampuan Bitcoin bertahan di atas level US$65.000 menunjukkan pelaku pasar masih berhati-hati. 

Risiko Volatilitas Bitcoin Masih Tinggi
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, salah satu wilayah paling strategis bagi ekonomi global, meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan, termasuk aset kripto.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dengan karakteristiknya yang sangat likuid dan diperdagangkan tanpa henti, Bitcoin diperkirakan akan tetap sensitif terhadap perkembangan konflik dan sentimen risiko global dalam jangka pendek.

Investor kini mencermati apakah Bitcoin mampu bertahan di atas level psikologis US$60.000, atau justru kembali melemah jika eskalasi konflik terus berlanjut.

Halaman Selanjutnya

Konflik Timur Tengah Picu Ketidakpastian GlobalMenteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengumumkan status darurat nasional. Serangan ke Iran dilaporkan melibatkan partisipasi militer AS dan meningkatkan risiko konflik regional yang lebih luas.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |