Dikritik Soal Gerakan Lingkungan yang Gak Berdampak, Tasya Kamila: Jujur Aku Sedih...

2 weeks ago 4

Kamis, 26 Februari 2026 - 16:16 WIB

Jakarta, VIVA – Nama Tasya Kamila kembali menjadi sorotan publik setelah unggahannya mengenai laporan kontribusi sebagai alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) memicu perdebatan di media sosial. 

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap transparansi dan dampak para penerima beasiswa negara, pernyataan Tasya justru menuai respons beragam dari warganet. Scroll lebih lanjut yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Isu mengenai kontribusi alumni LPDP memang sedang hangat diperbincangkan, terutama setelah komentar salah satu alumni lain, Dwi Sasetyaningtyas, viral dan memantik diskusi luas. 

Dalam situasi tersebut, Tasya melalui akun Instagram pribadinya memaparkan sejumlah langkah nyata yang telah ia lakukan sepulang dari studi magister di Columbia University, Amerika Serikat.

Alih-alih memperoleh dukungan penuh, ibu dua anak itu justru menerima kritik tajam. Sejumlah warganet mempertanyakan sejauh mana dampak gerakan lingkungan yang ia inisiasi sebanding dengan dana pendidikan yang telah diberikan negara.

Tasya pun tak menampik bahwa komentar tersebut memengaruhi perasaannya. Ia secara terbuka mengungkapkan kekecewaannya ketika kerja-kerja sosial yang telah dirintisnya dinilai tak memberikan perubahan berarti.

"Jujur aku sedih karena usahaku, gerakan akar rumput untuk lingkungan dibilang gak berdampak. Aku mempraktikkan keilmuan yang aku dapat di Columbia University, soal bagaimana kebijakan publik bisa efektif dijalankan melalui gerakan akar rumput dan bagaimana publik juga bisa mendorong kebijakan," kata Tasya Kamila, dikutip Kamis 26 Februari 2026.

Melalui yayasan Green Movement Indonesia yang ia gagas, Tasya menyebut dirinya berupaya menerjemahkan ilmu kebijakan publik ke dalam aksi nyata. Ia juga menegaskan bahwa bidang studi yang diambilnya berkaitan erat dengan agenda pembangunan berkelanjutan atau SDGs yang kala itu menjadi fokus nasional.

"Kebetulan di tahun 2016, isu SDGs menjadi salah satu prioritas sehingga jurusan kuliahku menjadi salah satu yang diprioritaskan LPDP," ungkapnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Tasya, gerakan sosial di sektor lingkungan memang terbuka untuk siapa saja. Namun, ia menilai tetap diperlukan sosok yang bersedia menjadi penggerak sekaligus penghubung antara masyarakat dan pembuat kebijakan.

"Gerakan-gerakan ini memang bisa dan justru HARUS dikerjakan siapa saja, tapi tetap harus ada yang mau jadi inisiator, amplifier, dan memberikan wadah untuk mengerjakannya," tulis Tasya Kamila.

Halaman Selanjutnya

"Harus pula ada yang menjembatani antara policymaker dan publik agar pesan tersampaikan sehingga kita tahu apa yang harus dilakukan dan tujuan lingkungan terwujud," imbuhnya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |