Selasa, 28 April 2026 - 21:36 WIB
Jakarta, VIVA – Dinamika geopolitik di kawasan Asia Tenggara kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan. Di saat bersamaan, Filipina yang memegang peran penting dalam kepemimpinan ASEAN dihadapkan pada tantangan besar, baik dari sisi eksternal maupun domestik.
Ketua Forum Sinologi Indonesia (FSI), Johanes Herlijanto, menilai bahwa dinamika tersebut tidak bisa dilepaskan dari meningkatnya aktivitas China di kawasan yang telah berlangsung dalam waktu lama.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Dalam 2 dasawarsa terakhir, China telah bersitegang dengan Vietnam, Indonesia, dan Filipina terkait upaya negara itu menegaskan kepemilikannya atas wilayah Zona Ekonomi Eksklusif dengan dalih sembilan garis putus-putus,” ujarnya belum lama ini.
Menurutnya, klaim tersebut dinilai bertentangan dengan hukum internasional dan menjadi salah satu sumber utama ketegangan di kawasan.
Dalam konteks keketuaan ASEAN, posisi Filipina menjadi semakin strategis sekaligus dilematis. Di satu sisi, negara tersebut memiliki kepentingan nasional untuk mempertahankan kedaulatan wilayahnya. Namun di sisi lain, Filipina juga dituntut untuk menjaga soliditas ASEAN agar tetap mampu menjadi kekuatan kolektif.
Peneliti Forum Sinologi Indonesia, Dr. Ratih Kabinawa, menyoroti bahwa China tidak hanya menggunakan pendekatan keamanan, tetapi juga memperkuat pengaruh melalui jalur diplomasi.
“Beijing seringkali meningkatkan kedekatan bilateralnya dengan anggota ASEAN yang sedang mendapat giliran menjadi ketua,” kata Ratih.
Ia menambahkan, strategi tersebut berpotensi memengaruhi arah kebijakan ASEAN, termasuk dalam upaya penyelesaian Code of Conduct (COC) di Laut Cina Selatan yang masih dalam proses negosiasi.
Sementara itu, pakar hubungan internasional Dr. Klaus Heinrich Raditio melihat adanya tantangan lain yang tidak kalah penting, yakni faktor domestik Filipina.
“Tanpa persatuan ASEAN, tak akan ada keberhasilan,” ujarnya menegaskan pentingnya soliditas kawasan dalam menghadapi dinamika geopolitik.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Meski demikian, Filipina dinilai memiliki posisi hukum yang kuat setelah putusan Mahkamah Internasional tahun 2016 yang menolak sebagian besar klaim China di Laut Cina Selatan.
Di tengah situasi global yang semakin kompleks, keketuaan Filipina di ASEAN menjadi ujian nyata bagi kemampuan negara tersebut dalam menyeimbangkan kepentingan nasional dan regional. Dukungan dari negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, dinilai akan sangat menentukan dalam menjaga stabilitas kawasan ke depan.
Geger! 1,9 Ton Sianida Diselundupkan, Dikemas Seolah Pupuk
Sebanyak 39 karung berisi bahan kimia berbahaya jenis sianida dengan berat 1,9 ton, yang diduga diselundupkan dari Filipina melalui perairan laut Sulawesi, Gorontalo.
VIVA.co.id
24 April 2026

3 days ago
10



























