Jakarta, VIVA – Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak dunia di tengah ketidakpastian geopolitik dan ketatnya pasokan global. Perusahaan keuangan internasional ini memperkirakan harga energi akan tetap tinggi bahkan berpotensi menekan permintaan dalam beberapa waktu ke depan.
Dalam laporan terbarunya, Goldman Sachs memperkirakan harga minyak acuan global, Brent, rata-rata mencapai US$90 atau sekitar Rp 1,55 juta (estimasi kurs Rp 17.240 per dolar AS) per barel pada kuartal IV-2026. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan berada di level US$83 atau sekitar Rp 1,43 juta per barel untuk periode yang sama.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Analis Goldman Sachs menilai risiko ekonomi global kini semakin besar. Tidak hanya dari sisi harga minyak mentah, tetapi juga akibat lonjakan harga produk turunan dan potensi kelangkaan.
“Risiko ekonomi saat ini lebih besar dibandingkan asumsi dasar kami terhadap minyak mentah, karena adanya potensi kenaikan harga, tingginya harga produk olahan, risiko kelangkaan, serta besarnya skala guncangan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tulis analis Goldman dalam laporan akhir pekan dikutip dari Oil Price pada Selasa, 28 April 2026.
Lonjakan harga energi mulai berdampak pada sisi permintaan. Goldman Sachs memperkirakan permintaan minyak global akan turun sekitar 1,7 juta barel per hari pada kuartal II-2026 dan berlanjut turun sekitar 100 ribu barel per hari pada 2026 dibandingkan 2025.
Penurunan permintaan bisa menjadi lebih dalam apabila gangguan pasokan terus berlanjut dalam jangka panjang. Goldman Sachs turut mengungkap, produksi minyak mentah di kawasan Timur Tengah saat ini mengalami gangguan signifikan yang diestimasikan kehilangan produksi mencapai 14,5 juta barel per hari.
“Karena penarikan persediaan secara besar-besaran tidak dapat berlangsung lama, penurunan permintaan yang lebih tajam mungkin diperlukan jika gangguan pasokan bertahan lebih lama,” demikian laporan Goldman Sachs.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Analis komoditas dari ING Group menilai pasar minyak global semakin ketat. Alasannya akibat tidak adanya kemajuan dalam pembicaraan damai
“Minimnya perkembangan dalam negosiasi membuat pasar semakin ketat setiap hari, sehingga harga minyak perlu menyesuaikan ke level yang lebih tinggi. Hampir tidak ada alternatif untuk menutup kekurangan pasokan sekitar 13 juta barel per hari,” tulis analis ING.
Halaman Selanjutnya
Dalam jangka pendek, kekurangan pasokan masih bisa ditutup melalui cadangan komersial maupun strategis. Namun jika kondisi ini berlarut-larut, kenaikan harga yang lebih tinggi akan tak terhindarkan dan berpotensi semakin menekan permintaan global.

2 hours ago
1



























