Harga Minyak Dunia Kembali Tembus US$100 per Barel Usai Mojtaba Khamenei Perintahkan Tutup Selat Hormuz

5 hours ago 1

Jumat, 13 Maret 2026 - 12:01 WIB

Jakarta, VIVA – Harga minyak dunia kembali menembus level psikologis US$100 per barel pada penutupan perdagangan Kamis waktu setempat, 12 Maret 2026. Lonjakan tajam terjadi setelah Mojtaba Khamene menyampaikan pidato perdana sebagai pemimpin tertinggi baru Iran dan menegaskan untuk tetap menutup Selat Hormuz di tengah eskalasi perang di Timur Tengah.

Mengutip CNBC Internasional, harga minyak acuan global, Brent, naik 9,22 persen sekitar US$8,48 menjadi US$100,46 atau setara Rp 1.700.737,57 (estimasi kurs R 16.930 per dolar AS) per barel. Ini menjadi pertama kalinya harga Brent ditutup di atas US$100 sejak bulan Agustus 2022.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), mencatatkan kenaikan 9,72 persen atau naik US$8,48 menjadi US$95,73 atau sekitar Rp 1.620.661,04 per barel.

Ilustrasi minyak mentah.

Photo :

  • CNBC Internasional

Putra dari Ali Khamenei ini berjanji akan mempertahankan penutupan Selat Hormuz. Pemimpin Iran menyampaikan perintah ketika serangan terhadap kapal komersial di Teluk Persia terus meningkat dalam beberapa hari terakhir.

Setidaknya, dua kapal tanker minyak dan satu kapal kargo dihantam  di dekat wilayah perairan Irak dan Uni Emirat Arab pada Kamis malam, 12 Maret 2026. Serangan terbaru juga dilaporkan terjadi di dekat Selat yang sangat penting secara strategis tersebut.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Selat Hormuz yang merupakan jalur distribusi energi paling strategis di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati Selat Hormuz yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar energi dunia.

Pasar Abaikan Pelepasan Cadangan Minyak IEA dan AS

Lonjakan harga minyak terjadi saat negara-negara anggota International Energy Agency (IEA) telah mengumumkan pelepasan cadangan minyak darurat terbesar dalam sejarah. IEA menyepakati untuk menggalokasikan sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategis untuk meredam lonjakan harga akibat gangguan pasokan global.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pemeritah Amerika Serikat (AS) juga menyatakan akan melepas 172 juta barel dari cadangan minyak strategis nasional. Namun, pasar tampaknya meragukan langkah tersebut dapat menutup kekurangan pasokan yang muncul akibat penutupan Selat Hormuz.

“Seperti yang sudah kami katakan berulang kali, satu-satunya cara agar harga minyak turun secara berkelanjutan adalah dengan memastikan aliran minyak kembali melewati Selat Hormuz,” tulis Analis Bank Belanda (ING) dalam keterangannya.

Halaman Selanjutnya

“Jika gagal melakukannya, artinya harga minyak berpotensi mencetak level yang lebih tinggi lagi,” lanjut laporan tersebut.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |