Harga Minyak Dunia Tembus US$112, Analis Peringatkan Pertanda Buruk Bagi Ekonomi Global

7 hours ago 5

Senin, 23 Maret 2026 - 20:32 WIB

Jakarta, VIVA - Harga minyak dunia terus melonjak hingga melampaui level US$110 per barel pada perdagangan Senin pagi, 23 Maret 2026. Tren kenaikan harga yang dipicu eskalasi geopolitik di Timur Tengah dinilai menjadi salah satu pertanda buruk bagi ekonomi global

Mengutip India Today, harga minyak mentah Brent diperdagangkan di level US$112,85 atau sekitar Rp 1.912.694,65 (estimasi kurs Rp 16.950 per dolar AS) per barel. Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat (AS), West Texas Intermediate (WTI), berada di harga US$98,91 atau Rp 1.676.425,59 per barel. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Serangan AS dan Israel ke Iran semakin meluas ke berbagai wilayah strategis di Asia Barat. Situasi yang awalnya bersifat geopolitik kini mulai bertransformasi menjadi ancaman ekonomi global dan harga minyak sebagai pusat tekanan utama.

Kekhawatiran pasar tidak lagi hanya soal harga yang naik, tetapi juga terganggunya pasokan energi. Selat Hormuz sebagai jalur vital yang dilalui hampir 20 persen pasokan minyak dunia berada dalam tekanan. 

Kapal tanker Rusia memasok minyak ke India.

Pergerakan kapal tanker melambat, biaya asuransi melonjak, dan serangan berulang membuat jalur distribusi energi tersebut menjadi kawasan berisiko tinggi.

Presiden Vayana, Kaushal Sampat, menilai eskalasi konflik ini sudah menyentuh sektor energi secara langsung. Ia menambahkan bahwa kondisi ini bukan sekadar gangguan jangka pendek. 

“Ini bukan hanya masalah sementara, tetapi kombinasi antara gangguan langsung dan risiko struktural yang mulai muncul,” katanya.

Sejumlah estimasi pasar menyebutkan sekitar 8 hingga 10 juta barel per hari pasokan minyak berpotensi terdampak jika gangguan terus berlanjut. Bahkan, Selat Hormuz sendiri mengangkut hampir 20 juta barel per hari sehingga gangguan kecil sekalipun bisa berdampak global.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pasar saham menjadi volatil, mata uang melemah, dan imbal hasil obligasi menyesuaikan dengan ekspektasi inflasi yang lebih tinggi. Investor pun mulai menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi seiring melonjaknya biaya energi.

Chief Research Officer Master Capital Services, Dr. Ravi Singh, mengatakan tekanan sudah terlihat di pasar keuangan dunia. “Pelemahan terbaru di pasar saham dipicu oleh eskalasi konflik Timur Tengah, kenaikan harga minyak, dan aksi jual investor asing,” jelasnya.

Halaman Selanjutnya

Risiko yang lebih besar kini mengarah pada kemungkinan resesi global jika harga minyak terus naik. Vijayakumar mengingatkan, level harga tertentu bisa menjadi titik kritis. 

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |