Heboh! Robert Kiyosaki Ramal Bitcoin Tembus US$750.000

7 hours ago 2

Senin, 23 Maret 2026 - 19:50 WIB

Jakarta, VIVA - Penulis buku Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki, menghebohkan dunia karena memproyeksi harga Bitcoin berpotensi melejit hingga US$750.000 atau sekitar Rp 12,71 miliar (estimasi kurs Rp 16.950 per dolar AS).

Kiyosaki mengatakan, harga tersebut akan terelisasi setelah krisis keuangan global berikutnya. Ia memperingatkan, saat ini dunia hampir mencapai titik puncak gelembung terbesar (biggest bubble) sepanjang sejarah manusia. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pernyataan Kiyosaki mencuat di tengah kondisi pasar yang sudah diliputi ketidakpastian akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Perang yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel dan Iran menyebabkan lonjakan harga komoditas, serta arah kebijakan bank sentral yang belum jelas. 

“Ketika gelembung pecah, Bitcoin akan menyentuh US$750.000 per koin dan Ethereum US$95.000 setahun setelah krisis,” ujar Kiyosaki dikutip dari Mint, Senin, 23 Maret 2026. 

Ilustrasi koin kripto. (FOTO: Indodax)

Melanisr CoinMarketCap, harga Bitcoin berada di level US$70.352,21 atau mengalami kenaikan 2,55 persen selama 24 jam terkahir hingga pukul 19.42 WIB pada Senin, 23 Maret 2026. Sementara itu, Ethereum diperdagangkan di posisi US$2.134 atau menguat 2,46 persen. 

Ia tidak menyebutkan secara spesifik kapan gelembung ekonomi akan terjadi. Satu hal yang pasti, Kiyosaki menegaskan bahwa waktunya sudah dekat. 

“Gelembung besar akan pecah. Saya tidak tahu peristiwa apa yang akan menjadi pemicunya. Apa pun itu, waktunya sudah dekat. Ini bukan soal apakah akan terjadi, tapi kapan,” katanya. 

Selain meramal aset kripto akan naik tajam, Kiyosaki juga memprediksi harga logam mulia melejit setelah gelembung ekonomi pecah. Ia menyebut emas bisa mencapai US$35.000 per ons dan perak menembus US$200.

Pandangan Kiyosaki ini memperkuat keyakinannya bahwa sistem keuangan global masih sangat rentan terhadap guncangan besar. Ia menilai aset riil dan mata uang terdesentralisasi akan menjadi pelindung utama ketika krisis melanda.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di sisi lain, Ekonom sekaligus Pengamat Pasar, Peter Schiff, memberikan perspektif berbeda dengan menyoroti pergerakan pasar dalam jangka pendek, khususnya pada logam mulia. Schiff melihat perak tengah memasuki fase kenaikan signifikan. 

“Perak baru saja mencatat breakout besar, dan lonjakan eksplosif berikutnya bisa dimulai kapan saja. Jika Anda menunggu harga masuk yang lebih baik, biasanya pasar tidak akan memberikannya,” ucap Schiff. 

Halaman Selanjutnya

Ia juga menyoroti saham perusahaan tambang emas dan perak yang justru terkoreksi tajam, termasuk indeks seperti GDX dan GDXJ yang turun sekitar 25 persen dari puncaknya. Meski demikian, Schiff menilai kondisi ini bisa menjadi peluang bagi investor, mengingat kinerja sepanjang tahun masih positif.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |