Heboh, Bagi-bagi Takjil Gratis Bertuliskan Tuhan Yesus Sayang Kamu!

1 week ago 4

Sabtu, 28 Februari 2026 - 12:38 WIB

Jakarta, VIVA – Aksi berbagi takjil yang seharusnya identik dengan suasana hangat Ramadhan mendadak menjadi perbincangan luas di media sosial. Sebuah video di TikTok menampilkan pembagian takjil gratis dengan stiker bertuliskan pesan “Tuhan Yesus Sayang Kamu”. Konten itu kemudian viral dan memicu perdebatan panjang soal batas toleransi dan etika berbagi lintas iman di Indonesia.

Perbincangan bermula ketika akun Threads @budilee12 mengunggah tangkapan layar dari video tersebut. Dalam unggahannya, ia menyampaikan keberatan terhadap penyertaan pesan bernuansa penginjilan dalam aksi sosial yang ditujukan untuk masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Nemu beginian di TikTok, please teman-teman Kristen yang tercinta kalau niat berbagi takjil ya berbagi aja nggak usah kasih embel-embel ayat penginjilan," tulis akun tersebut, dikutip Sabtu 28 Februari 2026. 

Unggahan itu dengan cepat menyedot perhatian dan menuai ratusan komentar. Ia juga menambahkan kekhawatiran soal potensi dampak yang muncul dari penggunaan kutipan religius pada kemasan makanan berbuka.

"Minimal kasih tulisan selamat berbuka puasa itu sudah cukup," lanjutnya.

Diskusi pun berkembang menjadi lebih luas, tidak lagi sekadar soal satu video, melainkan menyentuh persoalan sensitivitas simbol agama dalam ruang publik—terutama di momen Ramadan yang bagi sebagian masyarakat dianggap sakral.

Sebagian warganet menilai bahwa berbagi tanpa atribut keagamaan justru lebih mencerminkan semangat toleransi yang tulus. Salah satu komentar mencontohkan praktik di daerahnya.

"Di kotaku, Gereja Katolik rutin bagi-bagi takjil setiap tahun tanpa embel-embel stiker walaupun dibagikan langsung di depan gereja," kata netizen.

Ada pula yang menilai penggunaan simbol agama secara mencolok dalam aksi sosial bisa memunculkan persepsi berbeda dari niat awalnya.

"Menurutku tindakan memberi dengan embel-embel agama itu norak, kalau ada motif lain kesannya bukan sumbangan melainkan propaganda," timpal yang lain.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Warganet lain membandingkan dengan kebiasaan umat Muslim saat berbagi takjil. Mereka menyebut umumnya tidak mencantumkan ayat suci pada kemasan demi menghormati keberagaman penerima.

"Kami sebagai Muslim pun saat berbagi takjil tidak mencantumkan ayat Alquran karena penerima belum tentu Muslim dan kami menghindari ayat terbuang," kata warganet.

Halaman Selanjutnya

Di sisi lain, ada juga yang menyoroti potensi risiko sosial apabila simbol keagamaan disalahartikan atau dipelintir menjadi isu sensitif.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |