Jakarta, VIVA – Konflik yang melibatkan Iran, Israel dan Amerika Serikat mulai memberikan dampak luas terhadap sektor pangan global. Gangguan rantai pasok pupuk dan lonjakan harga kini mulai dirasakan di berbagai negara Asia, terutama di kawasan Asia Tenggara yang sangat bergantung pada impor bahan tersebut.
Musim tanam di sejumlah negara kini bahkan terancam akibat keterbatasan pasokan pupuk. Kondisi ini berpotensi memengaruhi produksi beras, yang merupakan komoditas pangan utama di kawasan tersebut.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Salah satu petani di Thailand, Suchart Piamsomboon, mengaku kesulitan mendapatkan pupuk saat musim tanam dimulai. Selain langka, harga pupuk juga mengalami kenaikan signifikan dalam waktu singkat.
“Saya memutuskan untuk tidak menanam,” ujarnya sebagaimana dikutip dari BBC, Sabtu, 2 Mei 2026.
Ia menilai bertani dalam kondisi saat ini justru berisiko merugi karena biaya produksi yang terus meningkat sementara pendapatan tidak sebanding.
Kondisi serupa juga terjadi di negara lain seperti Vietnam dan Filipina. Banyak petani menghadapi dilema yang sama akibat lonjakan harga pupuk dan ketidakpastian pasokan.
Keputusan untuk menunda atau mengurangi aktivitas tanam berpotensi berdampak pada hasil panen di akhir tahun.
Sebagaimana diketahui, gangguan ini dipicu oleh tertutupnya Selat Hormuz, jalur penting perdagangan global yang dilalui sekitar sepertiga distribusi pupuk dunia. Sejak konflik meningkat pada akhir Februari, arus distribusi pupuk dari kawasan Teluk terganggu, memicu kenaikan harga urea lebih dari 40 persen.
Situasi diperburuk oleh kebijakan China yang membatasi ekspor pupuk sejak Maret. Sebagai produsen pupuk terbesar di dunia, langkah ini berdampak signifikan terhadap negara-negara yang bergantung pada pasokan dari China.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Seorang eksportir pupuk di China menyebutkan bahwa pengiriman ke sejumlah negara harus dihentikan meskipun kontrak telah disepakati sebelumnya. “Kami sudah menerima pesanan. Klien sudah menunggu. Tetapi sekarang kami diberitahu untuk tidak mengirim,” ungkapnya.
Ketergantungan negara-negara Asia terhadap pupuk impor membuat dampak kebijakan ini semakin terasa. Vietnam, misalnya, sangat bergantung pada pasokan pupuk dari China untuk mendukung produksi berasnya. Sementara Filipina memiliki ketergantungan yang lebih tinggi tanpa dukungan produksi domestik yang memadai.
Halaman Selanjutnya
Analis senior Singapura Paul Teng menilai dampak dari krisis ini tidak akan langsung terlihat dalam waktu dekat, tetapi akan terasa saat musim panen tiba. “Negara-negara mungkin masih memiliki cukup stok pupuk untuk musim tanam saat ini, tetapi jika krisis berlanjut, kita akan melihat dampaknya pada tanaman seperti beras dalam beberapa bulan ke depan.”

2 hours ago
2





















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3064552/original/005518800_1583060624-zohre-nemati-6sNQftdA3Zs-unsplash.jpg)




