Jakarta, VIVA – Kenaikan harga minyak goreng kembali menjadi perhatian di tengah tekanan inflasi pangan yang masih membayangi perekonomian nasional. Komoditas ini memiliki peran penting dalam konsumsi rumah tangga maupun operasional pelaku usaha, khususnya UMKM kuliner.
Sejumlah ekonom menilai, lonjakan harga minyak goreng domestik saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor produksi di tingkat hilir, tetapi juga tekanan dari sektor hulu seperti kenaikan biaya kemasan plastik serta persoalan distribusi. Kondisi geopolitik global yang belum stabil turut memperbesar tekanan tersebut.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti, mengatakan kenaikan harga minyak goreng domestik sulit dihindari karena terjadi lonjakan harga kemasan plastik. Ia menjelaskan, lonjakan harga kemasan plastik berasal dari hulu akibat tekanan dari ketidakstabilan geopolitik serta gangguan pada rantai distribusi.
Menurut Esther, situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi industri nasional yang harus menyesuaikan strategi produksi agar tetap efisien. Salah satu langkah yang dinilai realistis adalah mencari alternatif kemasan yang lebih hemat biaya untuk menekan beban produksi.
"Hal ini juga memicu penggunaan kemasan yang lebih efisien karena naiknya biaya plastik," ujarnya, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Selasa, 28 April 2026.
Ia juga mengingatkan pemerintah agar mengambil langkah penanganan yang tepat karena kenaikan harga minyak goreng berpotensi memicu inflasi, meningkatkan biaya hidup rumah tangga, serta membebani UMKM kuliner akibat kenaikan ongkos produksi.
Menurut Esther, dampaknya tidak hanya terasa pada konsumsi harian masyarakat, tetapi juga pada stabilitas ekonomi nasional secara lebih luas. Kenaikan harga minyak goreng sebagai kebutuhan pokok dapat menekan pengeluaran rumah tangga dan mengurangi ruang konsumsi masyarakat untuk kebutuhan lainnya.
Secara makro, lanjut dia, kenaikan harga minyak goreng dapat mendorong inflasi, menurunkan tingkat konsumsi masyarakat, serta menahan laju pertumbuhan ekonomi di dalam negeri.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Beban pengeluaran harian masyarakat berpotensi akan meningkat karena minyak goreng merupakan kebutuhan pokok yang tidak bisa ditunda," tegasnya.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal. Ia menilai kenaikan harga minyak goreng domestik perlu ditangani secara serius oleh pemerintah, terutama melalui pengawasan yang lebih ketat terhadap rantai pasok.
Halaman Selanjutnya
Faisal menjelaskan bahwa selain dipicu lonjakan biaya kemasan plastik dari sektor hulu, kenaikan harga minyak goreng juga disebabkan oleh persoalan pada jalur distribusi. Menurutnya, pemerintah perlu memastikan distribusi berjalan efisien agar harga di tingkat konsumen tidak terus melonjak.

3 days ago
3



























