Selasa, 28 April 2026 - 00:02 WIB
VIVA – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memasuki babak baru. Di tengah ancaman krisis energi global dan memanasnya konflik kawasan, Iran melontarkan proposal yang berpotensi meredakan situasi di jalur vital dunia, Selat Hormuz. Namun, langkah tersebut justru berbenturan dengan sikap keras Amerika Serikat.
Iran seperti dilaporkan Reuters, menawarkan untuk mengakhiri cengkeramannya di Selat Hormuz sebagai bagian dari upaya membuka kembali jalur pelayaran dan meredakan konflik. Proposal ini disampaikan melalui mediator, termasuk Pakistan, kepada Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Namun, dalam usulan tersebut, Teheran secara tegas menolak membahas program nuklirnya pada tahap awal negosiasi.
Sebagai gantinya, Iran mengusulkan agar pembicaraan nuklir ditunda ke fase berikutnya, sementara fokus utama diarahkan pada penghentian konflik, pembukaan jalur pelayaran, serta pencabutan blokade ekonomi oleh Washington.
Langkah ini dinilai sebagai upaya Iran untuk mempercepat tercapainya kesepakatan awal tanpa terhambat isu sensitif terkait pengayaan uranium yang selama ini menjadi sumber kebuntuan diplomasi.
Akan tetapi proposal tersebut tampaknya tidak mendapat sambutan positif dari Amerika Serikat. Presiden Donald Trump menegaskan bahwa kesepakatan apa pun harus mencakup penghentian program nuklir Iran.
Trump bahkan menyatakan bahwa tidak ada alasan untuk melakukan pertemuan jika Iran tidak bersedia meninggalkan ambisi nuklirnya.
“Jika mereka ingin berbicara, mereka bisa datang kepada kami atau menghubungi kami. Mereka tahu apa yang harus ada dalam perjanjian,” kata Trump dalam pernyataannya.
Sikap ini mempertegas posisi Washington yang menjadikan isu nuklir sebagai syarat utama, sekaligus menutup peluang kompromi cepat atas tawaran Iran.
Di sisi lain, upaya diplomasi terus dilakukan. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melakukan serangkaian kunjungan ke sejumlah negara, termasuk Oman dan Rusia, untuk menggalang dukungan serta mencari jalan keluar dari kebuntuan negosiasi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ia bahkan dijadwalkan bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai bagian dari konsultasi strategis terkait konflik yang juga melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Meski demikian, harapan tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat masih terlihat tipis. Rencana pertemuan langsung antara pejabat Amerika Serikat dan Iran di Islamabad sebelumnya dibatalkan, sehingga jalur diplomasi masih menemui hambatan serius.
Halaman Selanjutnya
Sebagai informasi, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak global melintasi wilayah tersebut dalam kondisi normal. Gangguan di kawasan ini telah mendorong lonjakan harga minyak dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi global.

4 days ago
2

























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3064552/original/005518800_1583060624-zohre-nemati-6sNQftdA3Zs-unsplash.jpg)
