Iran Tegaskan Tak Akan Redakan Perang di Bawah Pimpinan Baru Mojtaba Khamenei

2 hours ago 2

Rabu, 11 Maret 2026 - 14:15 WIB

Jakarta, VIVA – Iran menunjuk putra Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi baru. Penunjukan ini mempertegas Teheran akan mempertahankan garis pertahanan dan tidak akan mengendurkan serangan. 

Mojtaba Khamenei memenangkan pemungutan suara di Majelis Pakar Iran sehingga dinobatkan menjadi pemimpin tertinggi menggantikan ayahnya berkuasa selama hampir 37 tahun. Sebagaimana diketahui bersama bahawa Ali Khamenei tewas akibat serangan AS-Irael pada 28 Februari 2026. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Analis Bloomberg Geoeconomics, Dina Esfandiary, menilai kepemimpinan Mojtaba berpotensi melanjutkan kebijakan keras ayahnya. Sehingga di era pemimpin baru ini, Iran kemungkinan besar tidak akan mengubah arah kebijakan negara untuk terus melawan.

“Mojtaba memiliki banyak kesamaan ideologis dengan ayahnya dan akan berupaya mempertahankan kesinambungan kebijakan, termasuk dalam perang yang sedang berlangsung,” ujar Esfandiary dikutip dari Financial Post, Rabu, 11 Maret 2026. 

Mojtaba Hosseini Khamenei

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, sepakat untuk tidak akan menyerah dalam tekanan militer yang meningkat. “Gagasan bahwa kami akan menyerah tanpa syarat adalah mimpi yang harus mereka kubur selamanya,” tegas Pezeshkian.

Di sisi lain, Donald Trump mengkritik keras penunjukan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi Iran. Trump juga menghadapi tekanan domestik agar tidak memperpanjang konflik, terutama karena harga minyak dunia melonjak berisiko memicu krisis inflasi baru.

Konflik di kawasan Timur Tengah kini telah memasuki pekan kedua. AS dan Israel masih melancarkan serangan ke wilayah Iran, sementara Teheran terus membalas dengan serangan drone dan rudal ke Israel serta sejumlah negara Teluk Arab.

Ketegangan geopolitik di kawasan itu turut memicu gejolak di pasar energi global. Harga minyak mentah Brent sempat melonjak hampir 10 persen hingga menyentuh sekitar US$102 per barel, bahkan sempat mendekati US$120 per barel sebelumnya di tengah kekhawatiran gangguan pasokan energi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Lonjakan harga energi terjadi setelah Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran strategis  dilaporkan mengalami gangguan operasional akibat konflik. Jalur ini merupakan salah satu rute perdagangan minyak paling penting di dunia.

Situasi tersebut memaksa beberapa negara produsen minyak utama di Timur Tengah mengurangi produksi. Sumber yang mengetahui kebijakan tersebut mengatakan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak telah melakukan penyesuaian produksi akibat ketidakpastian di kawasan.

Halaman Selanjutnya

Eskalasi konflik ini juga memicu gejolak di pasar keuangan global. Pasar saham melemah, imbal hasil obligasi melonjak sedangkan dolar AS menguat ke level tertinggi dalam tujuh pekan terakhir seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak geopolitik dan lonjakan inflasi global.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |