Kecelakaan Kereta Bekasi Jadi Sorotan, Mengapa Kereta Tak Bisa Berhenti Mendadak?

3 days ago 3

Rabu, 29 April 2026 - 00:05 WIB

VIVA –Insiden tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Cikarang Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026, menyisakan duka mendalam. Hingga Selasa sore, tercatat 15 orang meninggal dunia dan 84 lainnya mengalami luka-luka.

Seluruh korban telah mendapatkan penanganan di sejumlah rumah sakit, di antaranya RSUD Bekasi, RS Bella Bekasi, RS Primaya, RS Mitra Plumbon Cibitung, RS Bakti Kartini, RS Siloam Bekasi Timur, RS Hermina, serta RS Mitra Keluarga Bekasi Timur dan Barat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menyusul insiden tersebut, muncul pertanyaan di kalangan publik mengapa KA Argo Bromo relasi Gambir-Pasar Turi tidak langsung berhenti untuk menghindari kecelakaan tersebut. Selain itu muncul pula pertanyaan besar mengapa kereta api sulit untuk melakukan pengereman mendadak?

Terkait dengan hal ini pihak Kereta Api Indonesia (KAI) pernah memberikan penjelasan resmi di tahun 2023. Pernyataan tersebut disampaikan setelah insiden kecelakaan antara kereta api dan truk di Semarang dan Bandar Lampung pada 18 Jul2023 lalu.

Saat itu, Vice President Public Relation KAI yang dijabat oleh Joni Martinus menjelaskan bahwa secara sistem pengereman, kereta api merupakan jenis transportasi yang proses pengeremannya membutuhkan jarak agar bisa benar-benar berhenti.

“Berbeda dengan transportasi darat pada umumnya, kereta api memiliki karakteristik yang secara teknis tidak dapat dilakukan pengereman secara mendadak,” kata dia dalam keterangan resminya Jumat 21 Juli 2023.

Faktor Kereta Tak Bisa ‘Ngerem’ Mendadak

Joni juga menjelaskan terkait dengan alasan mengapa kereta api tidak dapat melakukan pengereman mendadak. Perta terkait faktor panjang dan berat rangkaian kereta api. Disebutnya bahwa semakin panjang dan berat rangakaian kereta api, maka jarak yang dibutuhkan kereta api untuk benar-benar berhenti akan semakin panjang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di Indonesia, 1 rangkaian kereta api rata-rat terdiri dari 8 hingga 12 gerbong dengan bobot mencapai 600 ton. Bobot ini belum termasuk penumpang dan barang bawaan mereka. Dengan kondisi seperti itu, maka akan dibutuhkan energi yang besar untuk membuat rangkaian kereta api berhenti.

Lalu faktor kedua terkait dengan sistem pengereman yang umumnya menggunakan jenis rem udara. Dijelaskannya bahwa cara kerja rem tersebut adalah dengan mengompresi udara dan disimpan hingga proses pengereman terjadi.

Halaman Selanjutnya

Saat masinis mengaktifkan sistem pengereman, udara tadi akan didistribusikan melalui pipa kecil di sepanjang roda dan membuat friksi pada roda yang akan membuat kereta berhenti.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |