VIVA – Pendidikan dan perlindungan terhadap perempuan serta anak menjadi dua hal yang semakin penting di tengah perubahan kehidupan masyarakat. Selain memastikan akses belajar tetap terbuka, perlindungan juga perlu diperkuat seiring munculnya berbagai bentuk kekerasan di ruang digital.
Persoalan tersebut menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) dalam mendorong pembangunan yang lebih inklusif. Akses pendidikan kesetaraan hingga upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak menjadi bagian dari kebijakan yang dikembangkan di daerah tersebut.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Salah satu yang didorong adalah Program Paket A, B, dan C yang memberikan kesempatan bagi masyarakat yang belum mendapatkan akses pendidikan formal secara optimal untuk kembali menempuh pendidikan.
Program pendidikan kesetaraan ini dinilai penting, terutama bagi masyarakat di wilayah pelosok yang menghadapi keterbatasan akses. Kesempatan belajar yang lebih terbuka juga dapat membantu perempuan memperoleh ruang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.
Bagi keluarga, pendidikan tidak hanya berkaitan dengan ijazah. Akses belajar juga dapat membuka peluang yang lebih luas bagi seseorang untuk meningkatkan kemampuan, mendapatkan pekerjaan, maupun mengembangkan usaha.
Di sisi lain, tantangan yang dihadapi perempuan dan anak kini tidak hanya datang dari lingkungan sekitar. Perkembangan teknologi turut menghadirkan bentuk ancaman baru yang dapat terjadi melalui ruang digital.
Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Merambah Dunia Digital
Perundungan siber, pelecehan seksual berbasis elektronik, penyalahgunaan data pribadi hingga penipuan digital menjadi sejumlah persoalan yang perlu diwaspadai.
Kondisi tersebut membuat edukasi mengenai keamanan digital menjadi semakin penting, terutama bagi anak-anak dan generasi muda yang sehari-hari tidak terpisahkan dari teknologi.
Pada 27 Juli 2026 lalu, Pemprov Kalsel bersama Polda Kalsel, Kementerian Agama, sejumlah instansi terkait dan 21 perguruan tinggi menandatangani nota kesepahaman untuk membentuk forum pencegahan dan penanganan kekerasan serta kejahatan siber terhadap perempuan dan anak.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Forum tersebut diarahkan untuk memperkuat koordinasi dalam pencegahan maupun penanganan kasus yang terjadi di lingkungan perguruan tinggi, satuan pendidikan, dan pondok pesantren.
“Kita ingin memberikan edukasi kepada generasi muda mengenai bahaya kekerasan maupun penyalahgunaan teknologi digital,” tegas Gubernur Kalsel H. Muhidin, dalam keterangannya, dikutip Senin 14 September 2026.
Halaman Selanjutnya
Upaya tersebut menjadi penting karena dampak kekerasan di ruang digital tidak selalu berhenti ketika seseorang keluar dari dunia maya. Perundungan maupun pelecehan dapat memengaruhi rasa aman, kepercayaan diri, hingga kondisi psikologis korban.

1 hour ago
1













