Rupiah Menguat ke Rp 17.605 di Tengah Tekanan Harga Minyak Dunia terhadap Ketahanan Fiskal RI

2 hours ago 1

Senin, 14 September 2026 - 09:27 WIB

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan bergerak melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.611 pada Jumat, 11 September 2026. Posisi rupiah itu melemah 75 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.536 pada perdagangan Kamis, 10 September 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara perdagangan di pasar spot pada Senin, 14 September 2026 hingga pukul 09.02 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.605 per dolar AS. Posisi itu menguat 6 poin atau 0,03 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.611 per dolar AS.

Ilustrasi mata uang Rupiah.

Photo :

  • Pixabay/IqbalStock

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, harga minyak mentah dunia melampaui US$100 per barel, sehingga posisi Indonesia sebagai importir neto minyak memang menjadi tantangan berat bagi ketahanan fiskal dan stabilitas ekonomi nasional.

"Dampak utama dan beban fiskal yang muncul akibat situasi tersebut adalah pembengkakan subsidi dan kompensasi energi membuat beban APBN meningkat," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Senin, 14 September 2026.

Kenaikan harga minyak mentah di atas asumsi Makro APBN secara otomatis menaikkan alokasi anggaran untuk subsidi dan kompensasi BBM seperti Pertalite dan Solar serta LPG 3 kg. 

Sehingga akan terjadi risiko defisit, apabila pemerintah memilih untuk tidak menaikkan harga BBM di tingkat eceran demi menjaga daya beli masyarakat. Karena, pemerintah harus menanggung selisih harga yang sangat besar yang berpotensi melebarkan defisit anggaran.

Sebagai importir neto, Indonesia harus mengimpor minyak dalam jumlah besar menggunakan dolar AS. Tingginya harga minyak membuat kebutuhan akan dolar AS melonjak tajam.

S3hingga terjadi pelebaran transaksi berjalan dan tingginya permintaan terhadap mata uang asing, yang dapat menekan nilai tukar rupiah dan pada gilirannya bisa memicu imported inflation (inflasi barang impor) untuk komoditas lainnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pemerintah dihadapkan pada dilema kebijakan fiskal dan moneter, dan ini yang membuat batu sandungan tersendiri. APBN jebol karena beban subsidi yang tidak rasional dan pemerintah mempertahankan subsidi BBM.

Kalau menaikkan harga BBM, maka akan memicu inflasi tinggi, menurunkan daya beli masyarakat, dan berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Halaman Selanjutnya

Meskipun Indonesia di sisi lain diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas ekspor lain seperti batu bara atau kelapa sawit (CPO) yang sering kali ikut terkerek naik saat krisis energi (windfall revenue), keuntungan tersebut sering kali tidak cukup untuk sepenuhnya menutup kerugian akibat membengkaknya biaya impor minyak mentah.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |