Bekasi, VIVA – Insiden tabrakan beruntun yang melibatkan kereta rel listrik (KRL) dan kereta api jarak jauh KA Argo Bromo Anggrek di kawasan Bekasi Timur, Jawa Barat, menyisakan duka mendalam sekaligus trauma bagi para penumpang yang selamat.
Salah satu korban selamat yang ditemui di RSUD Kota Bekasi, Syahril menuturkan detik-detik tragedi saat berada di dalam rangkaian KRL yang tertemper dari KA Argo Bromo Anggrek belakang. Ia mengaku masih syok.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Sejauh ini insya Allah aman, tapi lengan kayaknya perlu dicek karena tadi kepental,” ujar Syahril kepada wartawan yang dikutip tvOne.
Ia menjelaskan, saat kejadian dirinya berada di gerbong dua dari belakang atau gerbong 9. Namun, menurutnya, kondisi paling parah terjadi di gerbong paling belakang, yakni gerbong 10 yang merupakan gerbong khusus wanita.
“Yang parah di gerbong satu dari belakang (gerbong 10), banyak yang kejepit. Gerbong dua hancur juga parah, semuanya pada kena, ada yang patah tulang juga,” kata Syahril di RSUD Kota Bekasi.
Korban mengungkapkan, sebelum tabrakan besar terjadi, rangkaian KRL yang ditumpanginya sempat berhenti di kawasan Bekasi Timur. Hal itu disebabkan adanya gangguan di jalur setelah KRL lain yang lebih dulu mengalami kecelakaan dengan sebuah mobil taksi listrik di perlintasan.
“Tadi sempat berhenti, dikasih tahu karena ada kereta di peron samping menabrak mobil. Akhirnya kami berhenti dulu di Bekasi Timur,” tutur Syahril.
Namun situasi berubah drastis dalam hitungan detik. Dari arah belakang, kereta api jarak jauh melaju dan menghantam rangkaian KRL yang tengah berhenti.
“Tiba-tiba kereta jarak jauh menabrak gerbong belakang sampai hancur semua. Terus kita terpental. Kaca berhamburan, kursi hancur semua,” ucapnya.
Ia mengaku beruntung tidak terkena pecahan kaca, meski mengalami cedera di bagian lengan kiri yang diduga keseleo atau patah dan perlu pemeriksaan lebih lanjut.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Saya tidak kena kaca, tapi lengan ini kemungkinan keseleo atau patah, kayaknya perlu dirontgen,” katanya.
Dalam kondisi panik dan penuh kepanikan, ia juga sempat melihat sejumlah korban lain yang terjepit di gerbong 10. Bahkan, ia melihat adanya korban meninggal dunia, meski tidak mengetahui jumlah pastinya saat itu.
Halaman Selanjutnya
“Di gerbong satu banyak yang kejepit, ada yang meninggal, tidak tahu berapa. Saya sudah syok, panik semua,” ujarnya.

4 days ago
3

























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3064552/original/005518800_1583060624-zohre-nemati-6sNQftdA3Zs-unsplash.jpg)
