Kolaborasi BRI hingga Kembara Nusa Kasih Layanan Kesehatan bagi Masyarakat Alor NTT

19 hours ago 1

Jumat, 24 Juli 2026 - 11:05 WIB

Jakarta, VIVA – Program layanan kesehatan gigi gratis bagi masyarakat kembali dihadirkan oleh Yayasan Kembara Nusa. Kali ini, bersama GIGI.ID dan Basecamp Melangkiki dengan dukungan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui BRI Peduli, program tersebut menyentuh masyarakat di wilayah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T), yakni Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

Sebanyak 74 relawan lintas profesi terlibat dalam program layanan kesehatan gigi besutan Kembara Nusa yang dilaksanakan pada 23-24 Juli 2026. Para relawan tersebut di antaranya dokter, spesialis, dan tenaga non-medis lainnya yang berasal dari penjuru Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di tengah tingginya masalah kesehatan gigi dan belum meratanya tenaga medis, program ini menghadirkan pemeriksaan, perawatan, dan edukasi kesehatan gigi bagi anak-anak serta orang dewasa di sejumlah wilayah yang menghadapi keterbatasan akses layanan kesehatan.

“Alor menjadi perhatian kami mengingat masih adanya tantangan terhadap akses layanan kesehatan gigi. Tujuan kami bukan hanya menangani keluhan, tetapi juga membantu masyarakat mencegah masalah gigi berulang. Karena itu, pemeriksaan dan perawatan selalu kami lengkapi dengan edukasi menyikat gigi yang benar dan pentingnya pemeriksaan rutin. Di wilayah kepulauan, pengetahuan yang dapat diterapkan setiap hari sama pentingnya dengan menghadirkan layanan medis,” ujar drg. Stella Valentina, Sp.Ort. ,Co-Founder Kembara Nusa.

Program di Alor menjadi bakti sosial Kembara Nusa yang ke empat di Nusa Tenggara Timur sekaligus program pengabdian tahunan kedelapan sejak yayasan berdiri pada 2018. Keberlanjutan program ini dilandasi oleh masih besarnya kebutuhan terhadap pemerataan layanan kesehatan gigi. Data Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan pada 2025, yang telah menjangkau hampir 9 juta peserta, menunjukkan masalah kesehatan gigi menjadi temuan paling dominan, bahkan melampaui hipertensi. Sekitar satu dari dua peserta berusia 0–60 tahun tercatat mengalami gigi berlubang.

Hal ini kembali terlihat pada 2026. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan mencatat 1,1 juta anak atau 41% dari anak yang diperiksa melalui CKG, mengalami gigi berlubang. Di sisi layanan, Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI) menyebut 26,8% puskesmas di Indonesia masih belum memiliki dokter gigi.
 
Pada kesempatan sebelumnya, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mendorong penguatan layanan kesehatan gigi secara menyeluruh, mulai dari edukasi sejak dini hingga pemerataan tenaga medis ke seluruh pelosok negeri. Dorongan tersebut juga mencakup pembelajaran menyikat gigi yang benar sejak usia dini dan kebiasaan melakukan pemeriksaan gigi setiap enam bulan.

Halaman Selanjutnya

Program Kembara Nusa di Alor sejalan dengan arah tersebut dengan menggabungkan pelayanan langsung dan edukasi pencegahan. Pendekatan ini penting di tengah karakter wilayah kepulauan, sebaran permukiman, serta jarak menuju fasilitas kesehatan yang tidak selalu mudah dijangkau.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |