Meski Surplus US$641 Juta, Ekspor RI ke Timur Tengah Anjlok 13% Imbas Konflik Geopolitik

1 day ago 1

Kamis, 30 April 2026 - 19:30 WIB

Jakarta, VIVA – Menteri Perdagangan, Budi Santoso alias Busan menyampaikan, kondisi geopolitik di Timur Tengah turut berdampak terhadap kinerja ekspor Indonesia ke kawasan tersebut.

Dia mencatat, meskipun Indonesia masih mencatatkan surplus perdagangan sebesar US$641 juta dengan kawasan tersebut, namun ekspor Indonesia ke kawasan itu anjlok 13 persen di periode Januari-Februari 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Ekspor Indonesia ke Timur Tengah mencapai US$9,8 miliar atau 3,4 persen dari total ekspor nasional," kata Budi dalam Rakornas Kadin Bidang Perdagangan di Jakarta, Kamis, 30 April 2026.

Mendag Budi Santoso (Tengah)

"Dari jumlah tersebut, 40 persen ekspor ditujukan ke Uni Emirat Arab dan 29 persen ke Arab Saudi," ujarnya.

Meski demikian, Budi mengakui bahwa negara-negara di kawasan Timur Tengah masih menunjukkan minat untuk memperkuat kerja sama perdagangan dengan Indonesia, seiring keberhasilan perjanjian dagang yang telah terjalin sebelumnya.

Dia menjelaskan, keberhasilan Indonesia menjalin kerja sama ekonomi komprehensif (CEPA) dengan Uni Emirat Arab (UEA), telah menjadi pintu pembuka, untuk memperkuat kerja sama dengan negara-negara lain di kawasan tersebut.

"Jadi itu sebenarnya salah satu cara, ketika UAE itu sudah berhasil dengan kita, maka negara-negara Timur Tengah lainnya juga ingin membuat perjanjian dagang," kata Budi.

Karenanya, Budi memastikan bahwa pemerintah akan terus mendorong perluasan pasar ekspor, melalui berbagai perjanjian dagang internasional.

Selain Timur Tengah, Indonesia juga tetap menjaga pasar utama seperti Amerika Serikat, yang memberikan kontribusi signifikan terhadap surplus perdagangan nasional.

Budi menambahkan, secara struktur, ekspor Indonesia didominasi oleh industri pengolahan dengan persentase 80 persen, diikuti pertambangan 10 persen, serta sisanya mencakup sektor migas dan pertanian. Sementara untuk impor, 70 persen didominasi oleh bahan baku penolong, 8 persen barang modal, dan 8 persen barang konsumsi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Artinya, yang kita impor itu sebenarnya untuk proses industri kita yang kebanyakan juga untuk proses ekspor kita. Jadi sebenarnya secara ekosistem ekonomi kita itu berjalan dengan baik," ujarnya.

Sebagai informasi, saat ini pemerintah tengah menjalankan beberapa strategi di sektor perdagangan, yakni pengamanan pasar dalam negeri, perluasan pasar ekspor, dan mendorong produk lokal agar mampu bersaing di pasar global. (Ant).

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia

Bahlil: Hilirisasi Harus Memperkuat Kedaulatan Energi & Memperbesar Penerimaan Negara

Bahlil menekankan, hilirisasi harus memperkuat ketahanan energi nasional, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, serta mengurangi ketergantungan terhadap impor.

img_title

VIVA.co.id

30 April 2026

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |