Meta Platforms Tancap Gas Investasi AI Rp2.500 Triliun Meski Rugi Jumbo

5 hours ago 2

Senin, 4 Mei 2026 - 13:15 WIB

Jakarta, VIVA – Meta Platforms Inc tetap mengalokasikan belanja modal (capex) bernilai fantastis untuk pengembangan sektor kecerdasan buatan (AI). Perusahaan induk Facebook dan Instagram ini baru saja mengumumkan kerugian divisi metaverse-nya, Reality Labs, senilai US$80 miliar atau sekitar Rp 1.389,6 triliun (estimasi kurs Rp 17.370 per dolar AS) terhitung sejak tahun 2020.

Perhatian investor tertuju pada lonjakan belanja modal Meta, terutama untuk pengembangan AI. Perusahaan menaikkan proyeksi belanja modal hampir US$10 miliar menjadi kisaran US$125 miliar hingga US$145 miliar karena dinilai sebagai pengeluaran yang tidak terhindarkan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Kami terus meremehkan kebutuhan komputasi kami meskipun kapasitas telah kami tingkatkan secara signifikan, seiring kemajuan AI yang terus berlanjut dan tim kami terus menemukan proyek serta inisiatif baru yang menarik,” ungkap Chief Financial Officer Meta, Susan Li, dikutip dari Yahoo Finance pada Senin, 4 Mei 2026.

Tak hanya AI, Meta menggelontorkan dana besar ke divisi metaverse melalui Reality Labs. Pada kuartal pertama saja, unit ini mencatat kerugian operasional sebesar US$4,03 miliar. Sejak mulai melaporkan kinerja secara terpisah pada akhir 2020, total kerugian divisi ini telah mencapai sekitar US$80 miliar.

Ilustrasi kecerdasan buatan (AI).

Photo :

  • freepik.com/freepik

Tekanan biaya  mendorong Meta melakukan efisiensi besar-besaran. Perusahaan memangkas sekitar 10 persen tenaga kerja secara global, atau sekitar 8.000 karyawan. Khusus di Reality Labs, jumlah karyawan juga dipangkas sekitar 10 persen dari total 15.000 orang.

Meta juga kehilangan sekitar 20 juta pengguna global dalam tiga bulan pertama tahun ini menjadi perhatian utama dibandingkan kinerja keuangan yang relatif solid. Penurunan ini menjadi pukulan bagi perusahaan yang selama ini mengandalkan basis pengguna besar sebagai mesin pertumbuhan utama.

Susan menjelaskan penurunan dipicu oleh gangguan internet di Iran dan pembatasan akses WhatsApp di Rusia. Meski demikian, perusahaan masih mencatat lebih dari 3,5 miliar pengguna aktif harian di seluruh portofolio aplikasinya, termasuk Facebook dan Instagram. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Gangguan internet di Iran, serta pembatasan akses ke WhatsApp di Rusia,” tegas Susan.

Kerugian jumbo perusahaan, penurunan puluhan juta pengguna serta laporan kinerja kuartal I-2026 memberi tekanan berat bagi pergerakan saham perusahaan di pasar.  Saham Meta Platform terkoreksi tajam sebesar hampir 9 persen pada sesi perdagangan Kamis, 29 April 2026. 

Halaman Selanjutnya

Meski demikian, kinerja keuangan yang melampaui ekspektasi analis, baik dari sisi laba bersih maupun pendapatan, tidak mampu menopang harga saham di pasar. Dalam laporan ke Securities and Exchange Commission (SEC), perusahaan di bawah pimpinan Mark Zuckerberg Meta membukukan pendapatan sebesar US$56,3 miliar dan laba bersih mencapai US$26,8 miliar.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |