MTI Dorong Pemerintah Benahi Aspek Keselamatan Sebelum Tragedi Transportasi Terulang Kembali

1 week ago 9

Senin, 1 Juni 2026 - 14:47 WIB

Jakarta, VIVA – Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menilai, pendekatan keselamatan transportasi seharusnya dibangun melalui tiga aspek sekaligus yakni education, engineering, dan enforcement. Namun yang terjadi di Indonesia justru sebaliknya, dimana sistem baru bergerak setelah insiden dan bukan sebelumnya.

Dewan Penasihat MTI, Djoko Setijowarno menegaskan, kondisi itu bukan sekadar kelalaian sesaat, melainkan cerminan abainya negara terhadap keselamatan transportasi jalan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Rata-rata lebih dari 100 orang meninggal setiap hari akibat kecelakaan di Indonesia, terutama di jalan raya," kata Djoko dalam keterangannya, Senin, 1 Juni 2026.

Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan MTI Djoko Setijowarno

Photo :

  • Instagram/djoko_setijowarno

Dia mengatakan, angka itu bukan berasal dari satu tragedi besar yang viral, melainkan akumulasi kecelakaan harian yang kerap luput dari perhatian. "Sampai saat ini, perkembangan positif untuk keselamatan transportasi jalan nampaknya belum ada. Justru, pelan-pelan terjadi peningkatan," ujarnya.

Insiden kereta di Bekasi Timur menjadi bukti paling anyar dari kegagalan sistem itu. Hampir sebulan berlalu, KNKT belum punya lebih dari kronologi dan data faktual.

Meski investigasi belum rampung, pola persoalannya sebenarnya sudah mulai terlihat. Tragedi Bekasi Timur tidak lahir dari satu kesalahan, namun merupakan kegagalan berlapis yang seharusnya bisa dicegah karena berhubungan dengan kelalaian manusia, infrastruktur bermasalah, sistem operasional tidak optimal, hingga nihilnya standar keselamatan tepat saat kondisi darurat terjadi.

Djoko menekankan, hal tersebut mencerminkan belum adanya perbaikan signifikan dalam keselamatan transportasi jalan di Indonesia, yang bahkan menunjukkan tren peningkatan kecelakaan.

"Pencegahan lebih murah daripada penanganan setelah kecelakaan," ujarnya.

Peristiwa yang merenggut banyak korban jiwa itu tak hanya menyita perhatian masyarakat dan memunculkan empati terhadap para korban, tetapi juga kembali menghadirkan sorotan terhadap standar keselamatan transportasi di Indonesia yang dinilai belum optimal.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tantangannya semakin kompleks, ketika standar keselamatan belum sepenuhnya mengimbangi tingginya ketergantungan masyarakat terhadap transportasi harian. Data BPS menunjukkan ratusan ribu penumpang menggunakan kereta api setiap hari sepanjang 2025. Di saat yang sama, lebih dari 300 ribu armada bus beroperasi di jalan raya, sementara 145 juta sepeda motor masih mendominasi pergerakan masyarakat di Indonesia.

Dalam skala sebesar itu, satu celah keselamatan bisa berubah menjadi tragedi massal dalam hitungan detik. Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia Tulus Abadi menegaskan, mitigasi risiko tidak bisa hanya bertumpu pada perilaku pengguna.

Halaman Selanjutnya

"Perlu berbagai rekayasa teknis yang berdimensi safety untuk menekan risiko fatalitaa. Tuntutan yang masuk akal dan sudah lama seharusnya tidak perlu disuarakan ulang," ujarnya.

Halaman Selanjutnya

Read Entire Article
Sindikasi | Jateng | Apps |