VIVA – Tahun 2026 menjadi momen yang tidak lazim bagi sepak bola Asia Tenggara. Dua turnamen bertajuk Piala ASEAN dijadwalkan berlangsung dalam waktu berdekatan, masing-masing diselenggarakan oleh FIFA dan Federasi Sepak Bola Asia Tenggara (AFF). Situasi ini menjadi yang pertama terjadi di kawasan, sekaligus memunculkan perhatian publik karena adanya dua kompetisi dengan nama serupa namun pengelola berbeda.
Di satu sisi, publik mungkin bertanya-tanya, kenapa tidak digabung saja? Bukankah lebih efisien dan menguntungkan semua pihak? Namun, realitanya jauh lebih kompleks.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Turnamen yang selama ini dikenal publik, yakni Piala ASEAN milik AFF, tetap berjalan sesuai tradisi. Kompetisi ini dijadwalkan berlangsung mulai 24 Juli hingga 26 Agustus 2026, menggunakan format kandang dan tandang yang sudah mengakar selama puluhan tahun.
Tak lama berselang, FIFA menghadirkan versi mereka sendiri. Piala ASEAN versi FIFA akan digelar pada 21 September hingga 6 Oktober 2026, dengan format turnamen singkat terpusat di Indonesia dan Hong Kong.
Dua turnamen, dua penyelenggara, dan satu kawasan. Lalu, di mana letak masalahnya?
Masalah pertama bukan sekadar ego organisasi, melainkan sejarah panjang yang sudah terbangun. AFF telah mengelola turnamen ini selama lebih dari tiga dekade. Piala ASEAN bukan hanya kompetisi, tetapi juga identitas sepak bola kawasan yang sudah melekat di benak penggemar.
Timnas Indonesia di Piala AFF 2024
Photo :
- x.com/TimnasIndonesia
Ketika FIFA masuk dengan konsep baru, situasinya tidak sesederhana “mengambil alih”. Apalagi, turnamen AFF sudah memiliki kalender rutin dua tahunan yang sulit diubah secara mendadak.
Faktor berikutnya yang jauh lebih krusial adalah urusan bisnis. Sejak Mei 2025, AFF diketahui telah mengikat kontrak sponsor untuk penyelenggaraan Piala ASEAN 2026. Dalam dunia olahraga modern, kontrak semacam ini bukan sekadar kerja sama biasa. Ada hak siar, branding, hingga kewajiban penyelenggaraan yang harus dipenuhi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Jika turnamen dibatalkan atau digabung, risikonya bukan hanya reputasi, tetapi juga potensi gugatan hukum dan kerugian finansial dalam jumlah besar.
Di sisi lain, turnamen versi FIFA juga membawa kepentingan komersial tersendiri. Sponsor yang ingin terlibat harus melalui skema dan negosiasi baru, yang tentu tidak bisa dilakukan secara instan, apalagi dalam waktu yang sudah mepet menuju penyelenggaraan.
Halaman Selanjutnya
Situasi ini membuat kompromi hampir mustahil terjadi dalam waktu singkat. Ambisi FIFA sendiri sebenarnya cukup jelas. Presiden FIFA, Gianni Infantino, sebelumnya memperkenalkan gagasan turnamen regional ini dalam KTT ASEAN ke-47 pada Oktober 2025. Modelnya terinspirasi dari kesuksesan Piala Arab FIFA yang sempat mencuri perhatian dunia.

5 hours ago
3





















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3064552/original/005518800_1583060624-zohre-nemati-6sNQftdA3Zs-unsplash.jpg)



