Jakarta, VIVA – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indraprasta PGRI (BEM Unindra) mendorong mahasiswa dan masyarakat untuk terus mengawal proses penegakan hukum serta memperkuat tradisi kajian kritis terhadap berbagai persoalan hukum dan tata kelola pemerintahan di Indonesia.
Hal tersebut mengemuka dalam Diskusi Publik bertajuk 'Menakar Isu Indonesia Emas 74 Kg' yang membahas sejumlah persoalan terkait penegakan hukum, transparansi kekayaan pejabat publik, serta peran mahasiswa dalam mengawasi jalannya demokrasi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dalam diskusi tersebut, sejumlah peserta menyoroti berbagai kejanggalan yang dinilai perlu mendapatkan perhatian publik, termasuk perkembangan perkara yang berkaitan dengan Febrie. Forum mempertanyakan bagaimana proses hukum berjalan, keterlibatan sejumlah institusi dalam penanganan perkara, hingga perkembangan status pihak-pihak yang sebelumnya berada dalam posisi berbeda dalam proses hukum.
Selain persoalan proses hukum, peserta juga menyoroti pentingnya keterbukaan informasi mengenai sumber dan keseluruhan kekayaan pejabat publik yang menjadi perhatian masyarakat.
Menurut forum, transparansi kekayaan merupakan bagian penting dari prinsip akuntabilitas dalam penyelenggaraan negara dan harus dapat dipertanggungjawabkan melalui mekanisme hukum serta lembaga yang berwenang.
Diskusi juga memberikan perhatian terhadap peran media dalam memberitakan perkara-perkara yang memiliki kepentingan publik. Media dinilai memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan informasi yang berimbang, terverifikasi, dan tidak menghilangkan konteks penting dari sebuah perkara.
Dalam forum tersebut, peserta turut mempertanyakan bagaimana institusi penegak hukum menjalankan tugas, fungsi, dan kewenangannya. Kritik terhadap lembaga penegak hukum, menurut peserta diskusi, harus ditempatkan sebagai bagian dari kontrol masyarakat dalam negara demokrasi, bukan sebagai bentuk pelemahan terhadap institusi negara.
Salah satu peserta, Rahma BD, mempertanyakan persoalan korupsi dari perspektif yang lebih struktural. Ia menilai bahwa pembahasan mengenai korupsi tidak cukup berhenti pada individu pelaku, tetapi juga perlu melihat sistem yang memungkinkan praktik korupsi terus berulang.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Korupsi ini sudah terjadi berkali-kali. Tapi pernah tidak kita meneliti sistem dalam penyelesaian kasus korupsi? Kenapa orang-orang yang bekerja di dalam sistem itu justru bisa melakukan korupsi?," katanya.
Pertanyaan lain juga muncul mengenai kemungkinan keterkaitan perkara yang sedang dibahas dengan sejumlah peristiwa lain yang terjadi dalam waktu berdekatan. Peserta mempertanyakan apakah terdapat hubungan dengan sosok bernama Reza serta sejumlah peristiwa terkait gangguan kelistrikan di beberapa wilayah Indonesia. Forum menekankan bahwa pertanyaan semacam itu harus dijawab melalui data dan proses verifikasi, bukan melalui spekulasi.
Halaman Selanjutnya
Sementara itu, Walid dari Teknik Kebidanan mengingatkan pentingnya memberikan ruang bagi setiap peserta untuk menyampaikan pandangannya secara terbuka. Menurutnya, diskusi publik harus menjadi ruang pertukaran gagasan yang sehat dan tidak membatasi perbedaan perspektif.

3 hours ago
2


















