Jumat, 6 Maret 2026 - 00:02 WIB
VIVA – Rudal hipersonik Fattah-2 milik Iran disebut mampu melaju hingga Mach 15 dengan jangkauan sekitar 1.500 kilometer, sehingga berpotensi mengancam aset militer Amerika Serikat di kawasan Teluk dan Laut Arab.
Mengutip Wionews, Fattah-2 merupakan rudal hipersonik yang dikembangkan Iran dan dilaporkan dapat mencapai kecepatan sekitar 18.500 kilometer per jam. Senjata ini menggunakan mesin berbahan bakar cair yang memungkinkan perubahan lintasan selama penerbangan, sehingga membuatnya lebih sulit dilacak oleh sistem pertahanan udara konvensional.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Rudal berpemandu presisi tersebut memiliki jangkauan operasional hingga 1.500 kilometer. Dengan jarak tersebut, sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk serta aset angkatan laut di Laut Arab berada dalam potensi jangkauan serangan.
VIVA Militer: Rudal balistik hipersonik jarak pendek Fattah-2 militer Iran
Photo :
- X/@SprinterFamily
Fattah-2 memiliki panjang sekitar 12 meter dan membawa muatan bahan peledak seberat sekitar 200 kilogram. Meski demikian, menyerang kapal yang bergerak di laut memerlukan sistem penargetan satelit hampir secara real-time. Hal ini masih dianggap sebagai tantangan tersendiri dalam kemampuan intelijen militer Iran.
Di sisi lain, Amerika Serikat mengandalkan armada kapal induk yang memiliki mobilitas tinggi sebagai bagian dari sistem pertahanan. USS Abraham Lincoln merupakan kapal induk bertenaga nuklir kelas Nimitz yang mampu berlayar dengan kecepatan lebih dari 25 knot.
Kapal induk tersebut juga secara rutin mengubah arah pelayaran, sehingga membuatnya menjadi target yang sulit bagi rudal balistik jarak jauh. Selain itu, kapal induk biasanya tidak beroperasi sendirian dan dilindungi oleh kapal penjelajah serta kapal perusak pengawal.
VIVA Militer: Kapal induk USS Abraham Lincoln Angkatan Laut Amerika Serikat
Kapal-kapal pengawal ini dilengkapi dengan sistem tempur Aegis yang menggunakan radar jarak jauh untuk mendeteksi serta melacak berbagai ancaman yang datang dari udara maupun laut, termasuk potensi serangan rudal balistik atau hipersonik.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Untuk menghadapi ancaman tersebut, kelompok kapal penyerang Amerika Serikat mengandalkan Rudal Standar RIM-174 atau SM-6 sebagai pencegat utama. Sistem pertahanan ini juga didukung oleh kemampuan peperangan elektronik yang bertujuan mengacaukan sensor maupun sistem komunikasi proyektil yang datang.
Dalam skenario pertempuran, satu rudal Fattah-2 saja dinilai memiliki peluang kecil untuk menembus sistem pertahanan berlapis kapal induk. Serangan yang berpotensi berhasil biasanya memerlukan peluncuran sejumlah besar drone atau rudal jelajah secara bersamaan untuk terlebih dahulu menguras persediaan rudal pencegat milik Amerika Serikat.
Dubes Iran: Ali Khamenei Telah Fatwakan Nuklir Haram, tapi Tetap Dibunuh
Dubes Iran menekankan bahwa seluruh aktivitas nuklir yang ada di negaranya, sepenuhnya berada di bawah pengawasan penuh dari Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).
VIVA.co.id
6 Maret 2026

5 days ago
3










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5479806/original/021929400_1768990958-makanan_beku_sehat.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3429214/original/050982400_1618458325-dan-dealmeida-4aM_QE-HRLw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500390/original/054028400_1770863825-IMG01145.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124902/original/069816200_1738908499-glass-water-ai-generated.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523066/original/035189100_1772787502-andi_campak.jpeg)
