Jakarta, VIVA – Duka akibat kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026, kembali mengingatkan publik pada pentingnya keselamatan transportasi kereta api. Salah satu gerbong yang mengalami kerusakan parah dalam insiden tersebut adalah gerbong khusus wanita, fasilitas yang selama ini menjadi ruang aman bagi penumpang perempuan di perjalanan harian mereka.
Gerbong khusus wanita sendiri bukanlah hal baru di layanan Kereta Rel Listrik (KRL). Fasilitas ini telah hadir sejak lebih dari satu dekade lalu sebagai respons atas tingginya keluhan mengenai pelecehan seksual dan tindak kejahatan terhadap perempuan di transportasi publik, khususnya pada jam-jam sibuk.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Menilik dari sejarahnya, PT Kereta Api Indonesia resmi meluncurkan gerbong kereta khusus wanita atau KKW pada 19 Agustus 2010. Peresmian dilakukan langsung oleh Menteri Perhubungan saat itu, Fredy Numberi, bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan Linda Gumelar di Stasiun Depok, Jawa Barat.
Sebagai tahap awal, PT KAI menyiapkan tiga rangkaian kereta khusus perempuan. Dalam setiap rangkaian, terdapat dua gerbong yang diperuntukkan khusus bagi wanita dan anak-anak di bawah usia 10 tahun.
Gerbong khusus wanita ini ditempatkan di posisi paling depan dan paling belakang rangkaian kereta, yakni gerbong pertama dan gerbong kedelapan. Pada masa awal peluncurannya, fasilitas tersebut baru dioperasikan untuk KRL AC Ekonomi dan KRL Express rute Jakarta–Depok, dengan harga tiket yang tetap sama seperti gerbong reguler.
Untuk membedakannya dari gerbong biasa, desain interior gerbong dibuat lebih mencolok. Kursi penumpangnya menggunakan warna merah muda yang khas, sementara beberapa bagian dinding dilengkapi stiker peringatan dengan desain yang lebih menarik dan mudah dikenali.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sekretaris Perusahaan PT KAI Commuter Jabodetabek saat itu, Makmur Syaheran, menjelaskan bahwa kehadiran gerbong khusus wanita bertujuan memberikan rasa aman dan nyaman bagi penumpang perempuan, terutama di kota besar yang rawan terhadap tindak pelecehan seksual.
Namun, perjalanan sejarah gerbong khusus wanita juga tidak lepas dari berbagai peristiwa tragis. Terbaru adalah insiden yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026.
Halaman Selanjutnya
Kecelakaan maut tersebut bermula ketika KRL dari arah Cikarang menuju Bekasi berhenti setelah menabrak sebuah mobil taksi yang berada di tengah pelintasan. Di saat bersamaan, satu KRL lain rute Kampung Bandan–Cikarang juga tengah berhenti di Stasiun Bekasi Timur akibat insiden tersebut.

2 hours ago
1



























